Monthly Archives: September 2012

Ujung Genteng yang bukan ujungnya genteng

Malam itu, begitu aku mengganti status di profilku jadi “At Ujung Genteng”, aku menerima message dari adikku di kota lain yang menanyakan apakah di Jakarta hujan dan rumahku bocor sehingga malam-malam harus nangkring di ujungnya genteng. Belum juga aku sempat menjawab, message lain muncul lagi, kali ini dari temanku. Bunyi message-nya, “Emang elo pikir elo itu kucing apa? Malam-malam koq nangkring di atap”.

Woiii . . . ini Ujung Genteng nama tempat yang terletak di bagian selatan Jawa Barat bukannya ujungnya genteng rumah. Untung ada juga message yang masuk dari teman yang tahu soal Ujung Genteng ini. Tempat ini disebut Ujung Genteng karena memang terletak disuatu semenanjung yang menjorok ke laut. Jadi kalau kita menelusuri jalan ke sana, jalannya betul-betul habis di Ujung Genteng itu. Betul-betul sampai diujungnya. Tempat ini memang belum seterkenal pantai-pantai lain seperti Palabuhanratu, Anyer, dan lain-lain. Anyway, aku ceritain deh dari awal perjalananku menuju ke tempat ini.

Pagi itu aku berangkat dari rumah sekitar jam 8. Mulailah mobil diarahkan masuk ke pintu toll JORR, langsung disambung dengan menyusuri Jagorawi, terus keluar di pintu toll yang mengarah ke Sukabumi. Sepanjang toll sih ok-lah. Perjalanan relatif lancar. Nah gangguan mulai terasa di Cigugur. Wuih macet banget gara-gara pasar. Setelah Cigugur, macet lagi di Cibadak gara-gara masalah yang sama. Pusing juga, polisi yang mengatur lalu lintas pun kelihatan kewalahan. Sebetulnya bisa sih gak harus menuju Sukabumi dulu seperti aku, rutenya melalui Cigugur terus sebelum Cibadak belok ke kanan menuju Palabuhanratu lewat Cikidang. Melalui jalan ini selain terhindar dari kemacetan di Cibadak, juga jalannya lebih bagus. Lho terus ngapain aku maksain ke Sukabumi? Iya juga ya, kenapa ke Sukabumi dulu?.Oh iya baru inget deh, waktu itu perut dah minta diisi. He he he . . . daripada jalan terus dan masuk angin kan mendingan cari makanan dulu.

Setelah kenyang, mulailah perjalanan diteruskan ke Ujung Genteng dengan melalui Cikembar, dan mulai juga berbagai hambatan muncul. Dari jalan yang sempit sementara di depan ada iring-iringan orang punya hajat plus truk-truk yang jalannya lambat tapi susah banget buat disusul, sampai jalanan berkelok-kelok yang kondisinya rusak parah. Alhasil, sore jam 6 baru aku sampai di kawasan Ujung Genteng. Terlambat deh buat ikut kegiatan melepas-liarkan anak penyu yang dilakukan rutin setiap sore jam 5.30.

Ya sudahlah apa boleh buat. Setelah check-in ke penginapan yang sudah sempat aku booking sebelumnya, pengennya sih cari makan malam. Jadilah mobil kembali diarahkan menuju Surade, kota kecil yang terdekat dari tempat aku dan keluargaku menginap. Ternyata Surade sudah sangat sepi. Gak ada tempat makan yang memadai juga. Akhirnya cuma mampir ke Indomaret (untung masih ada Indomaret . . .) buat beli makanan kecil terus balik ke penginapan. Syukurlah ternyata restoran di penginapan masih buka, dan bisa menyediakan makan malam, meskipun cuma dengan menu nasi goreng. Dan masih untung lagi nasi gorengnya lumayan enak.

Setelah makan, acaranya tinggal duduk-duduk menunggu waktu melihat penyu yang bertelur. Wah lihat penyu? Iya lah . . . orang-orang juga tahunya kalau ke Ujung Genteng acaranya ya melepas-liarkan anak penyu (tukik) dan melihat penyu yang bertelur. Cuma kalau kegiatan pelepasan tukik jamnya sudah pasti, kalau melihat penyu bertelur jamnya tidak pasti. Maklum itu semua penyu yang hidup bebas di alam. Meskipun mereka hidup di alam, ternyata penyu-penyu itu juga belajar lho. Tapi ini sih mungkin cuma insting dan bukan kecerdasan karena belajar. Ya penyu-penyu itu “belajar” bahwa tiap-tiap akhir pekan, biasanya banyak orang yang datang untuk melihat mereka bertelur, akibatnya semakin sedikit saja penyu yang mau naik dan bertelur pada akhir pekan. Kalaupun ada, biasanya setelah lewat tengah malam. Wah . . . kalau harus nunggu segitu lamanya, repot juga. Selain ngantuk, pasti udara juga lebih dingin. Apalagi malam itu udara cukup cerah, sehingga sinar bulan cukup terang. Kata petugas di sana, kalau kondisi terang seperti ini, penyu juga jarang yang bertelur. Waduh . . . masa udah gagal ikut kegiatan melepas-liarkan tukik, terus juga gagal lagi lihat penyu bertelur?

Sekitar jam 8 malam tiba-tiba ada ketukan di pintu cottage yang aku tempati bersama keluargaku, ternyata petugas yang aku minta bantuannya untuk memantau kondisi pantai datang mengabarkan kalau sudah ada penyu yang mendarat untuk bertelur. Yipeee . . . ternyata gak perlu nunggu terlalu malam. Kedua anakku yang semula lesu langsung bersemangat mengambil jaket dan kamera masing-masing dan bergegas menuju ke mobil. Lho pake mobil? Iya, maklum tempat aku dan keluarga menginap masih berjarak kurang lebih 12 km ke pantai Pangumbahan tempat penyu-penyu itu bertelur. Jadilah malam itu kembali kita semua terguncang-guncang melalui jalanan rusak menuju Pangumbahan. Setelah parkir di halaman kantor petugas pengawas pantai, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki di tepi pantai yang berpasir. Huf . . huf . . huf . . lumayan capek juga jalan di pasir yang menenggelamkan langkah-langkah kita.

Dari kejauhan sudah tampak ada serombongan orang dengan kilatan lampu flash kamera. Wah pasti di situ tuh tempatnya. Dengan bersemangat, kita semua mempercepat langkah kesana, dan betul saja ternyata ada seekor penyu yang lumayan besar di situ. Rupanya proses sejak dari mendaratnya si penyu sampai kembali lagi ke laut setelah selesai bertelur makan waktu yang lumayan lama. Bisa sekitar 2 – 2,5 jam. Itupun, kalau si penyu belum sempat bertelur dan melihat cahaya ataupun kelihatan banyak orang, si penyu bisa berbalik lagi ke laut dan batal bertelur. Meskipun demikian, kalau dia sudah mulai bertelur dan merasa tidak terganggu, bisa saja kita melihat dan memfotonya, dengan catatan lampu flash diarahkan ke darat dan bukannya kelaut, dengan tujuan agar penyu-penyu lain yang mungkin menuju pantai untuk bertelur, tidak membatalkan niatnya bertelur di situ. Malam itu yang sempat aku lihat sih jenis penyu hijau. Kata petugasnya, dulu waktu Ujung Genteng masih belum seramai sekarang, masih ada jenis-jenis penyu lain yang bertelur di situ, seperti penyu sisik dan penyu belimbing yang badannya lebih besar dari penyu hijau. Kalau sekarang, palingan tinggal penyu hijau saja yang masih suka bertelur di situ.

a big green turtle in a process of lying its eggs

Semula pengen juga sih nungguin si penyu jalan balik ke laut, tapi koq lama banget ya. Lagipula angin laut juga makin malam makin kencang. Ya udah, akhirnya aku dan keluargaku memutuskan untuk balik ke arah kantor petugas penjaga pantai lagi. Sembari jalan menyusur pantai ke arah kantor mereka, anak-anakku banyak ngobrol dengan petugas yang mengantar keluargaku. Aku dengar sih yang dibicarakan gak jauh dari soal penyu-penyu itu. Ternyata antusiasme anak-anakku berbuah lho . . . si petugas menawarkan apakah kita mau melihat penyu-penyu kecil yang baru menetas dan akan dilepas-liarkan keesokan harinya. Tentu saja tawaran ini tidak disia-siakan, sehingga begitu sampai di kantornya si petugas langsung mengambil ember hijau besar, dimana penyu-penyu kecil itu “menginap” sebelum memulai perjuangannya di alam bebas menuju ke habitatnya. Malam itu aku lihat ada sekitar 12 ekor anak penyu di dalam ember. Takjub juga melihat penyu-penyu kecil ini. Kebayang bagaimana beratnya perjuangan mereka di alam menghadapi predator dan juga manusia tentunya. Bayangkan saja, dari setiap 100 ekor anak penyu yang dilepas-liarkan, belum tentu ada seekor yang bisa hidup sampai usia dewasa bahkan sampai bertelur.

small baby turtles just hatching in the afternoon

Akhirnya malam itu sekitar jam 11 malam aku dan keluarga tiba kembali di penginapan untuk beristirahat, mengingat paginya kita masih pengen jalan-jalan melihat-lihat di sekitar Ujung Genteng.

Pagi hari, setelah sarapan nasi goreng yang disediakan oleh pihak penginapan, yang pertama kita lakukan adalah jalan-jalan di sekitar penginapan. Tidak dapat dipungkiri kalau lokasi berdirinya penginapan itu memiliki pantai dengan pemandangan yang cukup indah. Sayangnya karena penginapan berada di sebuah bukit yang terletak dekat muara sungai, kita tidak bisa bermain air di pantai. Hal lain yang menjadi kendala adalah banyaknya karang di pantai. Juga ombaknya gede banget lho. Akhirnya kita cuma bisa duduk-duduk sambil ngobrol di sana.

amandaratu beach

Sekali-kali obrolan aku dan keluargaku terputus karena perhatian aku maupun istri dan kedua anakku terpecah karena ada seorang bapak yang dengan gesit memanjat pohon kelapa sambil membawa wadah dari plastik. Cepat sekali si bapak naik dan turun, trus naik dan turun lagi di beberapa batang pohon kelapa yang cukup tinggi. Dari yang semula cuma melihat secara sepintas lalu, akhirnya kegiatan si bapak menjadi perhatian aku dan keluargaku.

Ternyata bapak yang turun naik di pohon-pohon kelapa itu sedang mengumpulkan nira atau cairan manis yang diperoleh dari menoreh bunga kelapa yang belum mekar. Dari hanya tertarik melihat kegesitannya, akhirnya aku dan keluargaku mengikuti si bapak menuju rumahnya yang sederhana, dimana air nira tersebut diolah lebih lanjut menjadi gula kelapa.

traditionally made coconut sugar

Pengolahan dilakukan secara tradisional, sehingga cukup menarik juga untuk diikuti sambil ngobrol dengan keluarga si bapak di sana. Aku sendiri sempat disuguhi segelas air nira hangat yang mereka sebut tuak. Rasanya . . . hhmmm . . . manis, tapi tidak terasa alkoholnya sama sekali. Mungkin karena tuak itu belum terfermentasi. Dari obrolan dengan mereka, diketahui kalau mereka memperoleh pinjaman modal dari pemilik kebun kelapa, dan in return mereka harus menjual gula kelapa yang dihasilkannya kepada pemilik kebun. Melihat gula yang baru saja jadi, istriku tergerak ingin membelinya. Menurut keluarga itu, boleh saja membeli kalau cuma sedikit, karena kalau banyak mereka bisa dimarahin oleh pemilik kebun. Jadi deh hanya dua bongkah gula kelapa yang dibeli saat itu. Tapi banyak-banyak juga buat apa ya . .  ?

Selesai melihat pembuatan gula kelapa, aku mengajak istri dan kedua anakku untuk menuju ke Cikaso. Tujuannya mau melihat air terjun di sana. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 30 menit dari lokasi penginapan ke arah Surade. Sesampai di tepi sungai, aku harus membayar tiket untuk masuk ke lokasi air terjun. Tiket sebesar Rp 80.000,– per kapal pergi pulang dan Rp 2.000,– per orang. Loh koq per kapal? Iya, rupanya untuk menuju lokasi air terjun, kita harus mempergunakan kapal motor kecil. Gak jauh sih, paling cuma sekitar 500 meter berperahu sudah harus naik ke darat lagi, diteruskan dengan berjalan kaki sebentar, sampailah di air terjun atau curug Cikaso. Air terjun di situ tidak terlampau tinggu, tetapi terbagi menjadi tiga buah air terjun yang terletak sebelah menyebelah. Siang itu banyak juga pengunjung yang selain berfoto narsis di situ juga mandi-mandi di kolam alami yang terletak di bawah air terjunnya. Aku dan keluargaku gak terlalu lama di situ. Dalam perjalanan kembali ke kapal yang akan membawa kembali ke lokasi parkir mobil, baru aku tahu, ternyata tanpa menggunakan kapal sebetulnya bisa juga kita menuju lokasi air terjun dengan berjalan kaki. Tentunya sedikit lebih capek dibanding dengan hanya duduk di kapal. Selain itu, ternyata dengan membayar sebesar Rp 350.000,– per perahu pergi pulang, kita juga bisa diantar sampai ke muara. Gak tahu deh muara mana, mungkin lain kali kalau sempat ke Ujung Genteng lagi, bisa dicoba. Kali ini cukup ke Curug Cikaso saja dulu.

cikaso waterfall

Kembali ke penginapan, aku dan keluargaku langsung berkemas dan check-out mengingat hari sudah cukup siang. Rencana mau ke tempat-tempat menarik lain di Ujung Genteng harus disimpan untuk lain waktu. Ya paling tidak ada beberapa tempat yang masuk dalam catatanku untuk dikunjungi lain waktu, seperti Tempat Pelelangan Ikan, hutan tutupan, gua, dan tentunya juga kesempatan untuk ikut kegiatan melepas-liarkan anak penyu. Mudah-mudaha next time bisa ke Ujung Genteng lagi.

O ya, buat yang mau berkunjung ke Ujung Genteng, ada sedikit catatan berdasarkan pengalaman aku kesana waktu itu. Yang pertama, soal BBM. Buat yang kendaraannya pakai Pertamax dan Pertamax Plus, pastikan bahwa kendaraan full tank, karena di kawasan Ujung Genteng tidak ada pompa bensin yang menjual Pertamax maupun Pertamax plus. Yang kedua, jaga-jaga saja dengan membawa uang tunai karena kartu kredit juga belum bisa diandalkan di sana. ATM pun kalau aku gak salah lihat cuma ada ATM BCA. Itupun cuma ada di Surade. Tempat makan ada beberapa, tetapi tidak terlalu malam sudah tutup semua. Meskipun demikian, Indomaret dan Alfamart sudah ada, sehingga kalau mau membeli mie instan tidak terlampau repot. Anyway, secara keseluruhan sih masih ok koq daerahnya. Dan tentunya menambah pengetahuan kita tentang per-penyu-an .–

Summary:

Ujung Genteng is the name of a small village in the southern part of West Java. The place is located in a cape facing the Indian Ocean, hence the name of Ujung Genteng. Ujung can also be translated as cape.

Actually, the village is a fishermen’s village, but nowadays it becomes one of many week-end escapades for people from Jakarta and Bandung. That’s why many hotels as well as home-stays were built there. Many activities can be done in Ujung Genteng, such as walking along the beautiful beaches (there are three beaches there called Amandaratu Beach, Cibuaya Beach, and Pangumbahan Beach), visiting sea turtle conservation as well as watching the turtles lying eggs in the night at Pangumbahan, surfing at Cibuaya, watching the locals fishermen’s activity, watching the locals make coconut sugar traditionally, and visiting a nearby waterfall called Cikaso.

Categories: Travel Notes | Tags: , , | Leave a comment

Mau berenang barengan ikan di kolam renang?

Bermula dari obrolan santai dengan seorang teman di kantor yang berasal dari Cirebon, aku memperoleh informasi bahwa tidak jauh dari Cirebon ada tempat-tempat pemandian atau kolam renang yang di dalam kolam renangnya juga hidup ikan, sehingga mereka yang berenang di kolam tersebut praktis berenang bersama ikan. Wah unik juga nih. Aku rasa perlu juga untuk dikunjungi. Karena itulah dalam kesempatan perjalanan dari Jakarta menuju Tegal bersama keluarga, aku sempatkan untuk mencari lokasinya dan mampir untuk melihat seperti apa sih tempatnya.

Dari berbagai sumber, diketahui bahwa tempat dimana kita bisa berenang berbarengan ikan, dikenal dengan nama Pemandian Cibulan. Lokasinya di Desa Manis Kidul. Baru dengar ya nama desa Manis Kidul? Aku sendiri juga baru tahu sewaktu kesana koq. Posisinya di tengah perjalanan antara Cirebon menuju Kuningan, kira-kira 25 kilometer dari Cirebon. Petunjuk jalannya cukup jelas koq. Kalau dari arah Cirebon, kita berbelok ke arah kanan memasuki jalanan kecil tetapi cukup ok aspalnya. Paling tidak, pada saat aku kesana waktu itu sih ok ya.

Tidak jauh setelah berbelok dari jalan utama, gerbang masuk ke Pemandian Cibulan sudah nampak jelas. Kalau diurut-urut, sebetulnya Kolam Cibulan ini bisa dikategorikan sebagai salah satu obyek wisata tertua di daerah Kuningan. Pemandian ini diresmikan penggunaannya pada tahun 1939 oleh Bupati Kuningan saat itu, yaitu R.A.A. Mohamad Achmad. Kolam renang di dalam tempat pemandian itu sengaja dibangun sebagai kolam renang yang sudah mempertimbangkan adanya pengunjung dari berbagai tingkatan usia, terbukti dari kedalaman kolam-kolam yang ada di sana yang bervariasi. Ada yang berkedalaman hanya 60 cm, 120 cm, dan yang terdalam berkedalaman 200 cm.

Banyak kisah dan mitos yang menarik yang berkaitan dengan tempat ini. Nama Cibulan sendiri misalnya. Dikisahkan bahwa nama Cibulan berasal dari kata-kata Cai Katimbulan yang bermakna air yang muncul. Mungkin karena di sini banyak terdapat mata air yang memancarkan air yang cukup jernih dan segar. Bahkan air dalam kolam renangpun berasal dari mata air yang ada di dasar kolam. Orang-orang di sekitar tempat ini mempercayai bahwa Cai Katimbulan merupakan lokasi dimana Putri Buyut Manis menghilang karena Putri Buyut Manis tidak setuju dengan rencana orang tuanya untuk menjodohkannya dengan Putra Buyut Talaga.

Sementara itu mengenai ikan-ikan yang menghuni kolam-kolam yang ada di dalam lokasi Pemandian Cibulan, masyarakat mengenalnya sebagai Ikan Kancra Bodas dan ada juga yang menyebutnya sebagai Ikan Dewa. Ikan-ikan ini bentuknya mirip dengan ikan mas (cyprinus carpio) dengan warna hitam keabuan. Karena warnanya inilah ikan-ikan ini agak sulit difoto, apalagi karena dasar kolam yang dipenuhi bebatuan berwarna kehitaman dan permukaan kolam yang memantulkan cahaya matahari semakin mengaburkan bentuk ikan-ikan itu.

the sacred fishes

Di dalam masing-masing kolamnya itu terdapat banyak sekali ikan kancra bodas dari berbagai ukuran yang berenang-renang dengan bebasnya. Yang terbesar yang sempat aku lihat waktu itu panjangnya sudah hampir satu meter. Masyarakat di sekitar lokasi ini percaya bahwa ikan-ikan tersebut merupakan ikan-ikan keramat, sehingga mereka juga tidak berani mengganggu, apalagi sampai mengambil dan mengkonsumsinya. Mereka percaya kalau ada orang berani menganggu ikan-ikan itu, maka kemalangan akan menimpanya. Banyak cerita mengenai kesaktian atau kekeramatan ikan-ikan ini yang beredar di masyarakat. Salah satunya misal saja mengatakan bahwa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, ada seorang anggota balatentara Jepang yang mengambil dan membelah seekor ikan kancra bodas dari kolam ini dengan samurainya. Beberapa waktu kemudian si tentara meninggal dengan luka seperti terkena sabetan samurai juga. Ada pula cerita mengenai seseorang yang berusaha mencuri beberapa ekor ikan tersebut yang setelah menangkap ikan-ikan itu tiba-tiba merasakan ada tangan kuat yang mencekik lehernya. Cerita lain mengatakan bahwa pada saat-saat tertentu, orang yang beruntung bisa melihat seekor ikan kancra bodas besar yang mengenakan mahkota dikepalanya, sementara yang lain lagi mengatakan bahwa yang tampak adalah seekor ikan kancra bodas yang badannya hanya tinggal tulang belulang, tetapi ikan tersebut masih berenang-renang di kolam. Mana yang betul? Aku sendiri tidak tahu karena waktu aku dan keluargaku kesana yang aku lihat adalah ikan-ikan biasa yang berwarna abu-abu yang sedang mondar-mandir dengan bebasnya di dalam kolam, tanpa terganggu oleh orang-orang yang berenang di situ.

Masyarakat juga percaya bahwa jumlah ikan dalam kolam-kolam yang saling bersambungan satu sama lain itu selalu sama, tidak pernah berkurang ataupun bertambah seekorpun. Bahkan ketika kolam-kolam pemandian tersebut dibersihkan, yang dilakukan dua minggu sekali, ikan-ikan tersebut akan menghilang entah kemana, baru setelah kolam terisi air kembali, ikan-ikan tersebut akan muncul kembali dengan jumlah yang sama pula. Betul demikian? Aku sendiri tidak tahu. Tetapi dengan jumlah ikan yang sedemikian banyak, memangnya siapa orang iseng yang mau sengaja menghitungnya untuk membuktikan mitos itu. Biarlah itu menjadi kepercayaan masyarakat yang menjadi bumbu penarik suatu lokasi wisata seperti Pemandian Cibulan ini.

Mengenai asal-usul ikan-ikan ini, dipercaya pula bahwa mereka berasal dari prajurit-prajurit Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran yang memberontak, sehingga oleh Sang Prabu yang sakti mandraguna, prajurit-prajurit pembangkang ini dikutuk menjadi ikan-ikan yang mendiami kolam di dekat tempat dimana Sang Prabu pernah bersemedi.

the old swimming pool

Mengenai kondisi kolamnya, memang bukan kolam modern dengan segala fasilitas pendukungnya seperti yang terdapat di kota-kota besar. Bahkan kalau kita melihat kondisi kolam, tanpa diberitahupun kita akan langsung mengetahui bahwa kolam pemandian ini sudah ada sejak jaman dahulu. Jikapun ada renovasi, itu dalam skala yang sangat minor. Kolam Cibulan dikelilingi oleh pepohonan yang juga tampak sudah berusia tua, terbukti dari batangnya yang besar-besar dan sulur akar yang panjang-panjang, sehingga jika kita bersantai di tepi kolam, bisa dipastikan tidak akan tersengat sinar matahari, melainkan justru semilir angin yang membelai. Kemudian, seperti sudah aku sebutkan juga, air pengisi kolam ini berasal dari mata air alami yang berada di dasar kolam, sehingga airnya sangat jernih dan terasa lumayan dingin. Hanya saja, karena di sekitar kolam banyak terdapat pepohonan, maka di permukaan kolam-kolam itu banyak terdapat taburan daun yang gugur. Selain pepohonan besar, di sekeliling kolam juga sudah dibangun semacam selasar beratap yang banyak digunakan oleh beberapa pedagang makanan kecil. Tersedia pula penyewaan pelampung, kamar bilas, dan juga toilet. Pada saat aku kesana, aku juga menemukan adanya permainan flying fox sederhana di sana. Mungkin sebagai usaha pengelola untuk menarik lebih banyak pengunjung.

Ngomong-ngomong soal menarik lebih banyak pengunjung, selain menjual sensasi tersendiri untuk berenang bersama ikan, pengunjung diperkenankan untuk memberi makan ikan-ikan itu. Beberapa pedagang asongan menawarkan bungkusan kacang atom untuk makanan ikan-ikan itu. Kacang atom? Iya betul, aku gak salah tulis koq. Aku sendiri semula mengira mereka menawarkan kacang atom untuk cemilan, eh . . . gak tahunya kacang atom untuk makanan ikan. Melihat itu, istriku menolak membeli, bahkan berkomentar kalau minyak dari kacang atom itu akan mengotori kolam. Tetapi si penjual dengan tangkas menjawab bahwa tidak mungkin air kolam menjadi kotor, karena selain kacang atom tersebut akan langsung disambar dan dimakan ikan-ikan itu, juga air kolam bukan merupakan air diam seperti kolam-kolam renang di kota. Air dalam kolam-kolam di Pemandian Cibulan mengalir terus, sehingga kotoran akan langsung terbawa aliran air keluar dari kolam. Wah segitu bersemangatnya si penjual berceloteh supaya aku dan keluarga mau membeli kacang atomnya. Di pihak lain, istriku dan aku sendiri tetap bersikukuh untuk tidak membelinya semata-mata karena kacang atom bukan makanan alami ikan-ikan tersebut. Lain halnya sewaktu seorang pemuda berkuncir menghampiri aku dan keluarga sambil menawarkan ikan-ikan nila kecil yang terikat pelepah pisang tipis. Si pemuda mengatakan bahwa kita bisa menarik perhatian ikan-ikan kancra bodas di kolam untuk mendekati kita, karena ikan-ikan tersebut tertarik untuk memangsa ikan-ikan nila kecil yang kita masukkan dalam air, sementara badan ikan-ikan itu tetap terikat pelepah pisang tipis yang ada dalam genggaman kita. Pemuda itu memberi contoh bagaimana kita harus memainkan ikan-ikan itu dalam kolam, sehingga banyak sekali ikan kancra bodas berukuran sedang dan besar yang berkumpul berusaha menyambar ikan nila kecil itu. Akhirnya istriku mau juga membeli dua ekor ikan nila kecil seharga Rp 2.000,– untuk menarik perhatian ikan-ikan kancra bodas di kolam. Sayang karena belum terbiasa, hanya dalam waktu yang relatif singkat saja kedua ikan nila kecil tersebut sudah lenyap tersambar oleh ikan-ikan kancra bodas itu.

offering baits to attract the fishes

Puas bermain-main dengan ikan, aku menelusuri tepian kolam pemandian itu terus menuju ke arah belakang. Di bagian barat kolam-kolam pemandian itu terdapat tanah rawa atau empang yang di salah satu sudutnya tampak berdiri dengan kokohnya sebuah batu yang amat besar. Penduduk sekitar menyebutnya dengan nama Batu Gajah. Aku sendiri terus terang tidak begitu tertarik mendatangi Batu Gajah ini. Perhatianku justru lebih tertarik pada sebuah gapura kecil dengan tulisan “Sumur Tujuh” dan tanda panah yang mengarah ke dalam. Lokasi ini terpagar secara sederhana.

Aku memberanikan diri mengintip ke dalam, tanpa diduga, seorang lelaki yang membawa jerigen plastik menghampiri dan mempersilahkan kalau mau melihat-lihat atau memotret di dalam. Tentu saja tawaran ini aku sambut dengan baik. Setelah memberikan sumbangan sekedarnya di gerbang kecil itu, aku masuk ke dalam dan menjumpai setumpuk batu, yang di atasnya digelar selembar kain putih yang ditaburi bunga. Tumpukan batu ini terletak dalam sebuah ruangan sederhana yang beratap. Menurut lelaki yang mengantar, itu adalah petilasan Prabu Siliwangi. Dipercaya, di tempat itulah Sang Prabu yang sakti mandraguna melakukan puja semedi. Tempat ini sampai sekarang masih dikeramatkan, sehingga pada waktu-waktu tertentu, seperti malam Jumat Kliwon ataupun selama bulan Maulud, banyak orang yang datang untuk melakukan tirakatan ataupun bersemedi di situ. Istilahnya “ngalap berkah”.

meditation site of the legendary king

Di sekitar petilasan sang prabu inilah terdapat tujuh buah sumur yang dianggap sangat bertuah, yang selain mereka percayai dapat mengabulkan keinginan, juga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dengan adanya tujuh buah sumur ini, maka tempat tersebut lebih dikenal sebagai “Sumur Tujuh”. Sebetulnya yang disebut sumur di situ bukan benar-benar berupa sumur seperti pengertian kita sehari-hari. Ketujuh sumur itu hanyalah berupa mata air yang sangat jernih, yang airnya keluar dari antara akar-akar pohon yang sudah sangat tua, sehingga ukuran akarnya juga sangat besar. Jadi untuk mengambil air di ketujuh mata air ini tidak perlu mempergunakan timba seperti kalau kita mengambil air di sumur biasa, melainkan cukup dengan meraupkan tanganpun kita bisa menjangkau air yang sangat jernih tersebut. Ketujuh sumur atau sumber air itu masing-masingnya memiliki nama sendiri-sendiri. Urutannya dari sumur pertama sampai ketujuh adalah sebagai berikut : Sumur Kejayaan, Sumur Keselamatan, Sumur Pengabulan, Sumur Kemuliaan, Sumur Cisandane atau Sumur Cita-Cita, Sumur Cirencana, dan yang terakhir adalah Sumur Kemudahan. Masyarakat sekitar percaya kalau mereka bisa memperoleh tuah dari sumur-sumur itu dengan cara meminum airnya ataupun mandi air sumur itu setelah melakukan semedi di sana. Lelaki yang mengantar aku juga gencar “mempromosikan” kehebatan air sumur itu, dan menawari apakah mau membawa pulang air sumur itu, yang dengan halus aku tolak. Eh tahu apa gak kalau menurut cerita, di salah satu sumur itu berdiam seekor kepiting emas. Hanya orang-orang yang sangat beruntung saja yang bisa melihat kepiting emas itu. Aku sendiri mencoba mencari-cari, tapi jangankan kepiting emas, kepiting biasa saja juga gak kelihatan. Jadi mungkin aku masuk kategori yang kurang beruntung ya.

one of the natural springs

Hampir dua jam aku habiskan waktu di Pemandian Cibulan bersama keluargaku, meskipun waktu itu keluargaku maupun aku sendiri tidak menceburkan diri ke kolam. Mungkin lain kali bisa mampir lagi kesini untuk berenang dan bercanda dengan ikan-ikan dewa itu. Yah meskipun sudah cukup tua, Pemandian Cibulan masih tetap menarik. Pada masa-masa liburan, biasanya pemandian ini dipadati pengunjung, baik yang berasal dari sekitarnya, maupun dari luar kota. Pada saat kesana, aku menjumpai beberapa mobil dengan plat nomor Jakarta, Bandung dan juga Semarang. Pemandian Cibulan juga menjadi salah satu sumber pemasukan, baik bagi Pemerintah Daerah setempat maupun bagi masyarakat sekitarnya. Pemerintah Daerah memperoleh penghasilan dari hasil penjualan tiket masuk, penyewaan perlengkapan renang, penyewaan ban, dan lain-lain. Sementara masyarakat sekitar memperoleh penghasilan dari berjualan makanan kecil dan minuman, juga souvenir. Di luar pintu masuk Pemandian Cibulan ini, misalnya, terdapat sebuah gerai souvenir yang dikelola oleh masyarakat.

Nah . . . bagaimana? Mau berenang di kolam renang barengan ikan-ikan? Paling tidak teman-teman sudah tahu dimana tempatnya kalau mau mencobanya. Untuk aku sendiri, aku masih berkeinginan untuk kembali lagi ke daerah Kuningan ini karena sepanjang perjalanan dari Cirebon menuju Cibulan, aku sempat melihat beberapa papan petunjuk arah menuju beberapa lokasi yang rasanya akan cukup menarik juga kalau dikunjungi. Misal saja ada beberapa air terjun, ada pula Gua Maria di Cisantana yang menjadi lokasi ziarah bagi umat Katolik, belum lagi Gedung Perjanjian Linggarjati, dan juga kolam Cigugur yang berisi ikan kancra bodas seperti di Kolam Cibulan. Mungkin juga masih ada lagi tempat menarik yang terlewat dari pengamatanku di sekitar situ. Siapa tahu kan?

Summary:

Cibulan is an old swimming pool which has been existed since 1939. It is located about 25 kilometres from Cirebon, West Java, to the south. The swimming pool is unique, not only that the water come from many natural springs at the bottom of the pools, but also because in each of the three pools live many fishes that the locals believe are sacred fishes. They believe that if somebody harms even just one of the fishes, he or she will suffer the same fate as the fish that he or she harmed. According to a local legend, it is believed that the fishes were originally the soldiers of the legendary King Siliwangi who was cursed by the king himself because they went up against the king. Anyway, the fishes do not make the pools dirty, because the water of the pools continuously flowing directly to a nearby river. So . . . . if you want to swim along with fishes in a swimming pool, you can just come to Cibulan  🙂

Categories: Travel Notes | Tags: , , | 2 Comments

Art in an old cemetery lawn

Well . . . , actually the place is not a cemetery anymore. It has already been turned into an open air museum which displays various kinds of tombstones and inscriptions dated from the 18th and 19th century. That is why the museum is called the Inscription Museum (MuseumTaman Prasasti). The museum is located in Jalan Tanah Abang I, Central Jakarta.

As mentioned before, the Inscription Museum is used to be a cemetery lawn. At that time, it called the Kebon Jahe Kober Cemetery Lawn. It was a funeral area for officers and prominent figures, especially for the Dutch and European. The cemetery lawn started to be utilized in 1795, replacing the old funeral area in the yard of a church located at a place which is known as the Puppet Museum (Museum Wayang) now. Kebon Jahe Kober Cemetery Lawn was still be used as a public funeral until 1975, when the government decided to close the funeral area and turn it into an open air museum with a collection of more than 1200 tombstones and inscriptions, miniature of traditional gravestones from various province of Indonesia, a replica of an old hearse, and also the original coffins of the late first president and vice president of Indonesia.

To walk along the path inside the Inscription Museum is like walking in an art gallery because almost all tombstones and inscriptions in here are works of many talented painters, designers as well as sculptors molded to express the deep feeling of the users or the people who gave the order. Besides that, people can also learn a part of Indonesia’s history here, because the tombstones of some people that played a role of the Indonesian history are also being kept until now. That is why I believe that every tombstone and inscription in the museum has its own interesting story. I also believe that those stories will soon be gone if nobody cares to make documentations of them.

Categories: Travel Pictures | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.