Ujung Genteng yang bukan ujungnya genteng

Malam itu, begitu aku mengganti status di profilku jadi “At Ujung Genteng”, aku menerima message dari adikku di kota lain yang menanyakan apakah di Jakarta hujan dan rumahku bocor sehingga malam-malam harus nangkring di ujungnya genteng. Belum juga aku sempat menjawab, message lain muncul lagi, kali ini dari temanku. Bunyi message-nya, “Emang elo pikir elo itu kucing apa? Malam-malam koq nangkring di atap”.

Woiii . . . ini Ujung Genteng nama tempat yang terletak di bagian selatan Jawa Barat bukannya ujungnya genteng rumah. Untung ada juga message yang masuk dari teman yang tahu soal Ujung Genteng ini. Tempat ini disebut Ujung Genteng karena memang terletak disuatu semenanjung yang menjorok ke laut. Jadi kalau kita menelusuri jalan ke sana, jalannya betul-betul habis di Ujung Genteng itu. Betul-betul sampai diujungnya. Tempat ini memang belum seterkenal pantai-pantai lain seperti Palabuhanratu, Anyer, dan lain-lain. Anyway, aku ceritain deh dari awal perjalananku menuju ke tempat ini.

Pagi itu aku berangkat dari rumah sekitar jam 8. Mulailah mobil diarahkan masuk ke pintu toll JORR, langsung disambung dengan menyusuri Jagorawi, terus keluar di pintu toll yang mengarah ke Sukabumi. Sepanjang toll sih ok-lah. Perjalanan relatif lancar. Nah gangguan mulai terasa di Cigugur. Wuih macet banget gara-gara pasar. Setelah Cigugur, macet lagi di Cibadak gara-gara masalah yang sama. Pusing juga, polisi yang mengatur lalu lintas pun kelihatan kewalahan. Sebetulnya bisa sih gak harus menuju Sukabumi dulu seperti aku, rutenya melalui Cigugur terus sebelum Cibadak belok ke kanan menuju Palabuhanratu lewat Cikidang. Melalui jalan ini selain terhindar dari kemacetan di Cibadak, juga jalannya lebih bagus. Lho terus ngapain aku maksain ke Sukabumi? Iya juga ya, kenapa ke Sukabumi dulu?.Oh iya baru inget deh, waktu itu perut dah minta diisi. He he he . . . daripada jalan terus dan masuk angin kan mendingan cari makanan dulu.

Setelah kenyang, mulailah perjalanan diteruskan ke Ujung Genteng dengan melalui Cikembar, dan mulai juga berbagai hambatan muncul. Dari jalan yang sempit sementara di depan ada iring-iringan orang punya hajat plus truk-truk yang jalannya lambat tapi susah banget buat disusul, sampai jalanan berkelok-kelok yang kondisinya rusak parah. Alhasil, sore jam 6 baru aku sampai di kawasan Ujung Genteng. Terlambat deh buat ikut kegiatan melepas-liarkan anak penyu yang dilakukan rutin setiap sore jam 5.30.

Ya sudahlah apa boleh buat. Setelah check-in ke penginapan yang sudah sempat aku booking sebelumnya, pengennya sih cari makan malam. Jadilah mobil kembali diarahkan menuju Surade, kota kecil yang terdekat dari tempat aku dan keluargaku menginap. Ternyata Surade sudah sangat sepi. Gak ada tempat makan yang memadai juga. Akhirnya cuma mampir ke Indomaret (untung masih ada Indomaret . . .) buat beli makanan kecil terus balik ke penginapan. Syukurlah ternyata restoran di penginapan masih buka, dan bisa menyediakan makan malam, meskipun cuma dengan menu nasi goreng. Dan masih untung lagi nasi gorengnya lumayan enak.

Setelah makan, acaranya tinggal duduk-duduk menunggu waktu melihat penyu yang bertelur. Wah lihat penyu? Iya lah . . . orang-orang juga tahunya kalau ke Ujung Genteng acaranya ya melepas-liarkan anak penyu (tukik) dan melihat penyu yang bertelur. Cuma kalau kegiatan pelepasan tukik jamnya sudah pasti, kalau melihat penyu bertelur jamnya tidak pasti. Maklum itu semua penyu yang hidup bebas di alam. Meskipun mereka hidup di alam, ternyata penyu-penyu itu juga belajar lho. Tapi ini sih mungkin cuma insting dan bukan kecerdasan karena belajar. Ya penyu-penyu itu “belajar” bahwa tiap-tiap akhir pekan, biasanya banyak orang yang datang untuk melihat mereka bertelur, akibatnya semakin sedikit saja penyu yang mau naik dan bertelur pada akhir pekan. Kalaupun ada, biasanya setelah lewat tengah malam. Wah . . . kalau harus nunggu segitu lamanya, repot juga. Selain ngantuk, pasti udara juga lebih dingin. Apalagi malam itu udara cukup cerah, sehingga sinar bulan cukup terang. Kata petugas di sana, kalau kondisi terang seperti ini, penyu juga jarang yang bertelur. Waduh . . . masa udah gagal ikut kegiatan melepas-liarkan tukik, terus juga gagal lagi lihat penyu bertelur?

Sekitar jam 8 malam tiba-tiba ada ketukan di pintu cottage yang aku tempati bersama keluargaku, ternyata petugas yang aku minta bantuannya untuk memantau kondisi pantai datang mengabarkan kalau sudah ada penyu yang mendarat untuk bertelur. Yipeee . . . ternyata gak perlu nunggu terlalu malam. Kedua anakku yang semula lesu langsung bersemangat mengambil jaket dan kamera masing-masing dan bergegas menuju ke mobil. Lho pake mobil? Iya, maklum tempat aku dan keluarga menginap masih berjarak kurang lebih 12 km ke pantai Pangumbahan tempat penyu-penyu itu bertelur. Jadilah malam itu kembali kita semua terguncang-guncang melalui jalanan rusak menuju Pangumbahan. Setelah parkir di halaman kantor petugas pengawas pantai, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki di tepi pantai yang berpasir. Huf . . huf . . huf . . lumayan capek juga jalan di pasir yang menenggelamkan langkah-langkah kita.

Dari kejauhan sudah tampak ada serombongan orang dengan kilatan lampu flash kamera. Wah pasti di situ tuh tempatnya. Dengan bersemangat, kita semua mempercepat langkah kesana, dan betul saja ternyata ada seekor penyu yang lumayan besar di situ. Rupanya proses sejak dari mendaratnya si penyu sampai kembali lagi ke laut setelah selesai bertelur makan waktu yang lumayan lama. Bisa sekitar 2 – 2,5 jam. Itupun, kalau si penyu belum sempat bertelur dan melihat cahaya ataupun kelihatan banyak orang, si penyu bisa berbalik lagi ke laut dan batal bertelur. Meskipun demikian, kalau dia sudah mulai bertelur dan merasa tidak terganggu, bisa saja kita melihat dan memfotonya, dengan catatan lampu flash diarahkan ke darat dan bukannya kelaut, dengan tujuan agar penyu-penyu lain yang mungkin menuju pantai untuk bertelur, tidak membatalkan niatnya bertelur di situ. Malam itu yang sempat aku lihat sih jenis penyu hijau. Kata petugasnya, dulu waktu Ujung Genteng masih belum seramai sekarang, masih ada jenis-jenis penyu lain yang bertelur di situ, seperti penyu sisik dan penyu belimbing yang badannya lebih besar dari penyu hijau. Kalau sekarang, palingan tinggal penyu hijau saja yang masih suka bertelur di situ.

a big green turtle in a process of lying its eggs

Semula pengen juga sih nungguin si penyu jalan balik ke laut, tapi koq lama banget ya. Lagipula angin laut juga makin malam makin kencang. Ya udah, akhirnya aku dan keluargaku memutuskan untuk balik ke arah kantor petugas penjaga pantai lagi. Sembari jalan menyusur pantai ke arah kantor mereka, anak-anakku banyak ngobrol dengan petugas yang mengantar keluargaku. Aku dengar sih yang dibicarakan gak jauh dari soal penyu-penyu itu. Ternyata antusiasme anak-anakku berbuah lho . . . si petugas menawarkan apakah kita mau melihat penyu-penyu kecil yang baru menetas dan akan dilepas-liarkan keesokan harinya. Tentu saja tawaran ini tidak disia-siakan, sehingga begitu sampai di kantornya si petugas langsung mengambil ember hijau besar, dimana penyu-penyu kecil itu “menginap” sebelum memulai perjuangannya di alam bebas menuju ke habitatnya. Malam itu aku lihat ada sekitar 12 ekor anak penyu di dalam ember. Takjub juga melihat penyu-penyu kecil ini. Kebayang bagaimana beratnya perjuangan mereka di alam menghadapi predator dan juga manusia tentunya. Bayangkan saja, dari setiap 100 ekor anak penyu yang dilepas-liarkan, belum tentu ada seekor yang bisa hidup sampai usia dewasa bahkan sampai bertelur.

small baby turtles just hatching in the afternoon

Akhirnya malam itu sekitar jam 11 malam aku dan keluarga tiba kembali di penginapan untuk beristirahat, mengingat paginya kita masih pengen jalan-jalan melihat-lihat di sekitar Ujung Genteng.

Pagi hari, setelah sarapan nasi goreng yang disediakan oleh pihak penginapan, yang pertama kita lakukan adalah jalan-jalan di sekitar penginapan. Tidak dapat dipungkiri kalau lokasi berdirinya penginapan itu memiliki pantai dengan pemandangan yang cukup indah. Sayangnya karena penginapan berada di sebuah bukit yang terletak dekat muara sungai, kita tidak bisa bermain air di pantai. Hal lain yang menjadi kendala adalah banyaknya karang di pantai. Juga ombaknya gede banget lho. Akhirnya kita cuma bisa duduk-duduk sambil ngobrol di sana.

amandaratu beach

Sekali-kali obrolan aku dan keluargaku terputus karena perhatian aku maupun istri dan kedua anakku terpecah karena ada seorang bapak yang dengan gesit memanjat pohon kelapa sambil membawa wadah dari plastik. Cepat sekali si bapak naik dan turun, trus naik dan turun lagi di beberapa batang pohon kelapa yang cukup tinggi. Dari yang semula cuma melihat secara sepintas lalu, akhirnya kegiatan si bapak menjadi perhatian aku dan keluargaku.

Ternyata bapak yang turun naik di pohon-pohon kelapa itu sedang mengumpulkan nira atau cairan manis yang diperoleh dari menoreh bunga kelapa yang belum mekar. Dari hanya tertarik melihat kegesitannya, akhirnya aku dan keluargaku mengikuti si bapak menuju rumahnya yang sederhana, dimana air nira tersebut diolah lebih lanjut menjadi gula kelapa.

traditionally made coconut sugar

Pengolahan dilakukan secara tradisional, sehingga cukup menarik juga untuk diikuti sambil ngobrol dengan keluarga si bapak di sana. Aku sendiri sempat disuguhi segelas air nira hangat yang mereka sebut tuak. Rasanya . . . hhmmm . . . manis, tapi tidak terasa alkoholnya sama sekali. Mungkin karena tuak itu belum terfermentasi. Dari obrolan dengan mereka, diketahui kalau mereka memperoleh pinjaman modal dari pemilik kebun kelapa, dan in return mereka harus menjual gula kelapa yang dihasilkannya kepada pemilik kebun. Melihat gula yang baru saja jadi, istriku tergerak ingin membelinya. Menurut keluarga itu, boleh saja membeli kalau cuma sedikit, karena kalau banyak mereka bisa dimarahin oleh pemilik kebun. Jadi deh hanya dua bongkah gula kelapa yang dibeli saat itu. Tapi banyak-banyak juga buat apa ya . .  ?

Selesai melihat pembuatan gula kelapa, aku mengajak istri dan kedua anakku untuk menuju ke Cikaso. Tujuannya mau melihat air terjun di sana. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 30 menit dari lokasi penginapan ke arah Surade. Sesampai di tepi sungai, aku harus membayar tiket untuk masuk ke lokasi air terjun. Tiket sebesar Rp 80.000,– per kapal pergi pulang dan Rp 2.000,– per orang. Loh koq per kapal? Iya, rupanya untuk menuju lokasi air terjun, kita harus mempergunakan kapal motor kecil. Gak jauh sih, paling cuma sekitar 500 meter berperahu sudah harus naik ke darat lagi, diteruskan dengan berjalan kaki sebentar, sampailah di air terjun atau curug Cikaso. Air terjun di situ tidak terlampau tinggu, tetapi terbagi menjadi tiga buah air terjun yang terletak sebelah menyebelah. Siang itu banyak juga pengunjung yang selain berfoto narsis di situ juga mandi-mandi di kolam alami yang terletak di bawah air terjunnya. Aku dan keluargaku gak terlalu lama di situ. Dalam perjalanan kembali ke kapal yang akan membawa kembali ke lokasi parkir mobil, baru aku tahu, ternyata tanpa menggunakan kapal sebetulnya bisa juga kita menuju lokasi air terjun dengan berjalan kaki. Tentunya sedikit lebih capek dibanding dengan hanya duduk di kapal. Selain itu, ternyata dengan membayar sebesar Rp 350.000,– per perahu pergi pulang, kita juga bisa diantar sampai ke muara. Gak tahu deh muara mana, mungkin lain kali kalau sempat ke Ujung Genteng lagi, bisa dicoba. Kali ini cukup ke Curug Cikaso saja dulu.

cikaso waterfall

Kembali ke penginapan, aku dan keluargaku langsung berkemas dan check-out mengingat hari sudah cukup siang. Rencana mau ke tempat-tempat menarik lain di Ujung Genteng harus disimpan untuk lain waktu. Ya paling tidak ada beberapa tempat yang masuk dalam catatanku untuk dikunjungi lain waktu, seperti Tempat Pelelangan Ikan, hutan tutupan, gua, dan tentunya juga kesempatan untuk ikut kegiatan melepas-liarkan anak penyu. Mudah-mudaha next time bisa ke Ujung Genteng lagi.

O ya, buat yang mau berkunjung ke Ujung Genteng, ada sedikit catatan berdasarkan pengalaman aku kesana waktu itu. Yang pertama, soal BBM. Buat yang kendaraannya pakai Pertamax dan Pertamax Plus, pastikan bahwa kendaraan full tank, karena di kawasan Ujung Genteng tidak ada pompa bensin yang menjual Pertamax maupun Pertamax plus. Yang kedua, jaga-jaga saja dengan membawa uang tunai karena kartu kredit juga belum bisa diandalkan di sana. ATM pun kalau aku gak salah lihat cuma ada ATM BCA. Itupun cuma ada di Surade. Tempat makan ada beberapa, tetapi tidak terlalu malam sudah tutup semua. Meskipun demikian, Indomaret dan Alfamart sudah ada, sehingga kalau mau membeli mie instan tidak terlampau repot. Anyway, secara keseluruhan sih masih ok koq daerahnya. Dan tentunya menambah pengetahuan kita tentang per-penyu-an .–

Summary:

Ujung Genteng is the name of a small village in the southern part of West Java. The place is located in a cape facing the Indian Ocean, hence the name of Ujung Genteng. Ujung can also be translated as cape.

Actually, the village is a fishermen’s village, but nowadays it becomes one of many week-end escapades for people from Jakarta and Bandung. That’s why many hotels as well as home-stays were built there. Many activities can be done in Ujung Genteng, such as walking along the beautiful beaches (there are three beaches there called Amandaratu Beach, Cibuaya Beach, and Pangumbahan Beach), visiting sea turtle conservation as well as watching the turtles lying eggs in the night at Pangumbahan, surfing at Cibuaya, watching the locals fishermen’s activity, watching the locals make coconut sugar traditionally, and visiting a nearby waterfall called Cikaso.

Categories: Travel Notes | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: