Mau berenang barengan ikan di kolam renang?

Bermula dari obrolan santai dengan seorang teman di kantor yang berasal dari Cirebon, aku memperoleh informasi bahwa tidak jauh dari Cirebon ada tempat-tempat pemandian atau kolam renang yang di dalam kolam renangnya juga hidup ikan, sehingga mereka yang berenang di kolam tersebut praktis berenang bersama ikan. Wah unik juga nih. Aku rasa perlu juga untuk dikunjungi. Karena itulah dalam kesempatan perjalanan dari Jakarta menuju Tegal bersama keluarga, aku sempatkan untuk mencari lokasinya dan mampir untuk melihat seperti apa sih tempatnya.

Dari berbagai sumber, diketahui bahwa tempat dimana kita bisa berenang berbarengan ikan, dikenal dengan nama Pemandian Cibulan. Lokasinya di Desa Manis Kidul. Baru dengar ya nama desa Manis Kidul? Aku sendiri juga baru tahu sewaktu kesana koq. Posisinya di tengah perjalanan antara Cirebon menuju Kuningan, kira-kira 25 kilometer dari Cirebon. Petunjuk jalannya cukup jelas koq. Kalau dari arah Cirebon, kita berbelok ke arah kanan memasuki jalanan kecil tetapi cukup ok aspalnya. Paling tidak, pada saat aku kesana waktu itu sih ok ya.

Tidak jauh setelah berbelok dari jalan utama, gerbang masuk ke Pemandian Cibulan sudah nampak jelas. Kalau diurut-urut, sebetulnya Kolam Cibulan ini bisa dikategorikan sebagai salah satu obyek wisata tertua di daerah Kuningan. Pemandian ini diresmikan penggunaannya pada tahun 1939 oleh Bupati Kuningan saat itu, yaitu R.A.A. Mohamad Achmad. Kolam renang di dalam tempat pemandian itu sengaja dibangun sebagai kolam renang yang sudah mempertimbangkan adanya pengunjung dari berbagai tingkatan usia, terbukti dari kedalaman kolam-kolam yang ada di sana yang bervariasi. Ada yang berkedalaman hanya 60 cm, 120 cm, dan yang terdalam berkedalaman 200 cm.

Banyak kisah dan mitos yang menarik yang berkaitan dengan tempat ini. Nama Cibulan sendiri misalnya. Dikisahkan bahwa nama Cibulan berasal dari kata-kata Cai Katimbulan yang bermakna air yang muncul. Mungkin karena di sini banyak terdapat mata air yang memancarkan air yang cukup jernih dan segar. Bahkan air dalam kolam renangpun berasal dari mata air yang ada di dasar kolam. Orang-orang di sekitar tempat ini mempercayai bahwa Cai Katimbulan merupakan lokasi dimana Putri Buyut Manis menghilang karena Putri Buyut Manis tidak setuju dengan rencana orang tuanya untuk menjodohkannya dengan Putra Buyut Talaga.

Sementara itu mengenai ikan-ikan yang menghuni kolam-kolam yang ada di dalam lokasi Pemandian Cibulan, masyarakat mengenalnya sebagai Ikan Kancra Bodas dan ada juga yang menyebutnya sebagai Ikan Dewa. Ikan-ikan ini bentuknya mirip dengan ikan mas (cyprinus carpio) dengan warna hitam keabuan. Karena warnanya inilah ikan-ikan ini agak sulit difoto, apalagi karena dasar kolam yang dipenuhi bebatuan berwarna kehitaman dan permukaan kolam yang memantulkan cahaya matahari semakin mengaburkan bentuk ikan-ikan itu.

the sacred fishes

Di dalam masing-masing kolamnya itu terdapat banyak sekali ikan kancra bodas dari berbagai ukuran yang berenang-renang dengan bebasnya. Yang terbesar yang sempat aku lihat waktu itu panjangnya sudah hampir satu meter. Masyarakat di sekitar lokasi ini percaya bahwa ikan-ikan tersebut merupakan ikan-ikan keramat, sehingga mereka juga tidak berani mengganggu, apalagi sampai mengambil dan mengkonsumsinya. Mereka percaya kalau ada orang berani menganggu ikan-ikan itu, maka kemalangan akan menimpanya. Banyak cerita mengenai kesaktian atau kekeramatan ikan-ikan ini yang beredar di masyarakat. Salah satunya misal saja mengatakan bahwa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, ada seorang anggota balatentara Jepang yang mengambil dan membelah seekor ikan kancra bodas dari kolam ini dengan samurainya. Beberapa waktu kemudian si tentara meninggal dengan luka seperti terkena sabetan samurai juga. Ada pula cerita mengenai seseorang yang berusaha mencuri beberapa ekor ikan tersebut yang setelah menangkap ikan-ikan itu tiba-tiba merasakan ada tangan kuat yang mencekik lehernya. Cerita lain mengatakan bahwa pada saat-saat tertentu, orang yang beruntung bisa melihat seekor ikan kancra bodas besar yang mengenakan mahkota dikepalanya, sementara yang lain lagi mengatakan bahwa yang tampak adalah seekor ikan kancra bodas yang badannya hanya tinggal tulang belulang, tetapi ikan tersebut masih berenang-renang di kolam. Mana yang betul? Aku sendiri tidak tahu karena waktu aku dan keluargaku kesana yang aku lihat adalah ikan-ikan biasa yang berwarna abu-abu yang sedang mondar-mandir dengan bebasnya di dalam kolam, tanpa terganggu oleh orang-orang yang berenang di situ.

Masyarakat juga percaya bahwa jumlah ikan dalam kolam-kolam yang saling bersambungan satu sama lain itu selalu sama, tidak pernah berkurang ataupun bertambah seekorpun. Bahkan ketika kolam-kolam pemandian tersebut dibersihkan, yang dilakukan dua minggu sekali, ikan-ikan tersebut akan menghilang entah kemana, baru setelah kolam terisi air kembali, ikan-ikan tersebut akan muncul kembali dengan jumlah yang sama pula. Betul demikian? Aku sendiri tidak tahu. Tetapi dengan jumlah ikan yang sedemikian banyak, memangnya siapa orang iseng yang mau sengaja menghitungnya untuk membuktikan mitos itu. Biarlah itu menjadi kepercayaan masyarakat yang menjadi bumbu penarik suatu lokasi wisata seperti Pemandian Cibulan ini.

Mengenai asal-usul ikan-ikan ini, dipercaya pula bahwa mereka berasal dari prajurit-prajurit Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran yang memberontak, sehingga oleh Sang Prabu yang sakti mandraguna, prajurit-prajurit pembangkang ini dikutuk menjadi ikan-ikan yang mendiami kolam di dekat tempat dimana Sang Prabu pernah bersemedi.

the old swimming pool

Mengenai kondisi kolamnya, memang bukan kolam modern dengan segala fasilitas pendukungnya seperti yang terdapat di kota-kota besar. Bahkan kalau kita melihat kondisi kolam, tanpa diberitahupun kita akan langsung mengetahui bahwa kolam pemandian ini sudah ada sejak jaman dahulu. Jikapun ada renovasi, itu dalam skala yang sangat minor. Kolam Cibulan dikelilingi oleh pepohonan yang juga tampak sudah berusia tua, terbukti dari batangnya yang besar-besar dan sulur akar yang panjang-panjang, sehingga jika kita bersantai di tepi kolam, bisa dipastikan tidak akan tersengat sinar matahari, melainkan justru semilir angin yang membelai. Kemudian, seperti sudah aku sebutkan juga, air pengisi kolam ini berasal dari mata air alami yang berada di dasar kolam, sehingga airnya sangat jernih dan terasa lumayan dingin. Hanya saja, karena di sekitar kolam banyak terdapat pepohonan, maka di permukaan kolam-kolam itu banyak terdapat taburan daun yang gugur. Selain pepohonan besar, di sekeliling kolam juga sudah dibangun semacam selasar beratap yang banyak digunakan oleh beberapa pedagang makanan kecil. Tersedia pula penyewaan pelampung, kamar bilas, dan juga toilet. Pada saat aku kesana, aku juga menemukan adanya permainan flying fox sederhana di sana. Mungkin sebagai usaha pengelola untuk menarik lebih banyak pengunjung.

Ngomong-ngomong soal menarik lebih banyak pengunjung, selain menjual sensasi tersendiri untuk berenang bersama ikan, pengunjung diperkenankan untuk memberi makan ikan-ikan itu. Beberapa pedagang asongan menawarkan bungkusan kacang atom untuk makanan ikan-ikan itu. Kacang atom? Iya betul, aku gak salah tulis koq. Aku sendiri semula mengira mereka menawarkan kacang atom untuk cemilan, eh . . . gak tahunya kacang atom untuk makanan ikan. Melihat itu, istriku menolak membeli, bahkan berkomentar kalau minyak dari kacang atom itu akan mengotori kolam. Tetapi si penjual dengan tangkas menjawab bahwa tidak mungkin air kolam menjadi kotor, karena selain kacang atom tersebut akan langsung disambar dan dimakan ikan-ikan itu, juga air kolam bukan merupakan air diam seperti kolam-kolam renang di kota. Air dalam kolam-kolam di Pemandian Cibulan mengalir terus, sehingga kotoran akan langsung terbawa aliran air keluar dari kolam. Wah segitu bersemangatnya si penjual berceloteh supaya aku dan keluarga mau membeli kacang atomnya. Di pihak lain, istriku dan aku sendiri tetap bersikukuh untuk tidak membelinya semata-mata karena kacang atom bukan makanan alami ikan-ikan tersebut. Lain halnya sewaktu seorang pemuda berkuncir menghampiri aku dan keluarga sambil menawarkan ikan-ikan nila kecil yang terikat pelepah pisang tipis. Si pemuda mengatakan bahwa kita bisa menarik perhatian ikan-ikan kancra bodas di kolam untuk mendekati kita, karena ikan-ikan tersebut tertarik untuk memangsa ikan-ikan nila kecil yang kita masukkan dalam air, sementara badan ikan-ikan itu tetap terikat pelepah pisang tipis yang ada dalam genggaman kita. Pemuda itu memberi contoh bagaimana kita harus memainkan ikan-ikan itu dalam kolam, sehingga banyak sekali ikan kancra bodas berukuran sedang dan besar yang berkumpul berusaha menyambar ikan nila kecil itu. Akhirnya istriku mau juga membeli dua ekor ikan nila kecil seharga Rp 2.000,– untuk menarik perhatian ikan-ikan kancra bodas di kolam. Sayang karena belum terbiasa, hanya dalam waktu yang relatif singkat saja kedua ikan nila kecil tersebut sudah lenyap tersambar oleh ikan-ikan kancra bodas itu.

offering baits to attract the fishes

Puas bermain-main dengan ikan, aku menelusuri tepian kolam pemandian itu terus menuju ke arah belakang. Di bagian barat kolam-kolam pemandian itu terdapat tanah rawa atau empang yang di salah satu sudutnya tampak berdiri dengan kokohnya sebuah batu yang amat besar. Penduduk sekitar menyebutnya dengan nama Batu Gajah. Aku sendiri terus terang tidak begitu tertarik mendatangi Batu Gajah ini. Perhatianku justru lebih tertarik pada sebuah gapura kecil dengan tulisan “Sumur Tujuh” dan tanda panah yang mengarah ke dalam. Lokasi ini terpagar secara sederhana.

Aku memberanikan diri mengintip ke dalam, tanpa diduga, seorang lelaki yang membawa jerigen plastik menghampiri dan mempersilahkan kalau mau melihat-lihat atau memotret di dalam. Tentu saja tawaran ini aku sambut dengan baik. Setelah memberikan sumbangan sekedarnya di gerbang kecil itu, aku masuk ke dalam dan menjumpai setumpuk batu, yang di atasnya digelar selembar kain putih yang ditaburi bunga. Tumpukan batu ini terletak dalam sebuah ruangan sederhana yang beratap. Menurut lelaki yang mengantar, itu adalah petilasan Prabu Siliwangi. Dipercaya, di tempat itulah Sang Prabu yang sakti mandraguna melakukan puja semedi. Tempat ini sampai sekarang masih dikeramatkan, sehingga pada waktu-waktu tertentu, seperti malam Jumat Kliwon ataupun selama bulan Maulud, banyak orang yang datang untuk melakukan tirakatan ataupun bersemedi di situ. Istilahnya “ngalap berkah”.

meditation site of the legendary king

Di sekitar petilasan sang prabu inilah terdapat tujuh buah sumur yang dianggap sangat bertuah, yang selain mereka percayai dapat mengabulkan keinginan, juga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dengan adanya tujuh buah sumur ini, maka tempat tersebut lebih dikenal sebagai “Sumur Tujuh”. Sebetulnya yang disebut sumur di situ bukan benar-benar berupa sumur seperti pengertian kita sehari-hari. Ketujuh sumur itu hanyalah berupa mata air yang sangat jernih, yang airnya keluar dari antara akar-akar pohon yang sudah sangat tua, sehingga ukuran akarnya juga sangat besar. Jadi untuk mengambil air di ketujuh mata air ini tidak perlu mempergunakan timba seperti kalau kita mengambil air di sumur biasa, melainkan cukup dengan meraupkan tanganpun kita bisa menjangkau air yang sangat jernih tersebut. Ketujuh sumur atau sumber air itu masing-masingnya memiliki nama sendiri-sendiri. Urutannya dari sumur pertama sampai ketujuh adalah sebagai berikut : Sumur Kejayaan, Sumur Keselamatan, Sumur Pengabulan, Sumur Kemuliaan, Sumur Cisandane atau Sumur Cita-Cita, Sumur Cirencana, dan yang terakhir adalah Sumur Kemudahan. Masyarakat sekitar percaya kalau mereka bisa memperoleh tuah dari sumur-sumur itu dengan cara meminum airnya ataupun mandi air sumur itu setelah melakukan semedi di sana. Lelaki yang mengantar aku juga gencar “mempromosikan” kehebatan air sumur itu, dan menawari apakah mau membawa pulang air sumur itu, yang dengan halus aku tolak. Eh tahu apa gak kalau menurut cerita, di salah satu sumur itu berdiam seekor kepiting emas. Hanya orang-orang yang sangat beruntung saja yang bisa melihat kepiting emas itu. Aku sendiri mencoba mencari-cari, tapi jangankan kepiting emas, kepiting biasa saja juga gak kelihatan. Jadi mungkin aku masuk kategori yang kurang beruntung ya.

one of the natural springs

Hampir dua jam aku habiskan waktu di Pemandian Cibulan bersama keluargaku, meskipun waktu itu keluargaku maupun aku sendiri tidak menceburkan diri ke kolam. Mungkin lain kali bisa mampir lagi kesini untuk berenang dan bercanda dengan ikan-ikan dewa itu. Yah meskipun sudah cukup tua, Pemandian Cibulan masih tetap menarik. Pada masa-masa liburan, biasanya pemandian ini dipadati pengunjung, baik yang berasal dari sekitarnya, maupun dari luar kota. Pada saat kesana, aku menjumpai beberapa mobil dengan plat nomor Jakarta, Bandung dan juga Semarang. Pemandian Cibulan juga menjadi salah satu sumber pemasukan, baik bagi Pemerintah Daerah setempat maupun bagi masyarakat sekitarnya. Pemerintah Daerah memperoleh penghasilan dari hasil penjualan tiket masuk, penyewaan perlengkapan renang, penyewaan ban, dan lain-lain. Sementara masyarakat sekitar memperoleh penghasilan dari berjualan makanan kecil dan minuman, juga souvenir. Di luar pintu masuk Pemandian Cibulan ini, misalnya, terdapat sebuah gerai souvenir yang dikelola oleh masyarakat.

Nah . . . bagaimana? Mau berenang di kolam renang barengan ikan-ikan? Paling tidak teman-teman sudah tahu dimana tempatnya kalau mau mencobanya. Untuk aku sendiri, aku masih berkeinginan untuk kembali lagi ke daerah Kuningan ini karena sepanjang perjalanan dari Cirebon menuju Cibulan, aku sempat melihat beberapa papan petunjuk arah menuju beberapa lokasi yang rasanya akan cukup menarik juga kalau dikunjungi. Misal saja ada beberapa air terjun, ada pula Gua Maria di Cisantana yang menjadi lokasi ziarah bagi umat Katolik, belum lagi Gedung Perjanjian Linggarjati, dan juga kolam Cigugur yang berisi ikan kancra bodas seperti di Kolam Cibulan. Mungkin juga masih ada lagi tempat menarik yang terlewat dari pengamatanku di sekitar situ. Siapa tahu kan?

Summary:

Cibulan is an old swimming pool which has been existed since 1939. It is located about 25 kilometres from Cirebon, West Java, to the south. The swimming pool is unique, not only that the water come from many natural springs at the bottom of the pools, but also because in each of the three pools live many fishes that the locals believe are sacred fishes. They believe that if somebody harms even just one of the fishes, he or she will suffer the same fate as the fish that he or she harmed. According to a local legend, it is believed that the fishes were originally the soldiers of the legendary King Siliwangi who was cursed by the king himself because they went up against the king. Anyway, the fishes do not make the pools dirty, because the water of the pools continuously flowing directly to a nearby river. So . . . . if you want to swim along with fishes in a swimming pool, you can just come to Cibulan 🙂

Categories: Travel Notes | Tags: , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Mau berenang barengan ikan di kolam renang?

  1. damar

    kolam nya asik bgt….. pengen kesana lg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: