Kotaraja yang hilang ditelan waktu

Beberapa bulan lalu terjadi banjir besar di Thailand yang menyebabkan banyak kota di negara tersebut terendam air selama berhari-hari. Salah satu kota yang aku dengar ikut terendam juga adalah kota Ayutthaya yang terletak kurang lebih 85 kilometer di sebelah utara Bangkok. Mendengar kabar kalau Ayutthaya ikut terendam banjir, membuat aku cukup prihatin. Bagaimana tidak, di sana banyak terdapat candi-candi peninggalan Kerajaan Thailand di masa lalu, yang tanpa terendam banjirpun akan mudah rusak karena umurnya yang sudah sangat tua. Pada  saat aku dan keluargaku berkunjung ke sana sih kondisinya masih cukup terpelihara meskipun sebagian sudah berupa reruntuhan. Ya memang sih, aku kesana jauh sebelum terjadinya bencana banjir besar itu.

He he he . . . gara-gara berita banjir itu aku jadi keingat perjalananku bersama keluarga ke Ayutthaya.

Waktu itu kebetulan aku dan keluargaku berlibur ke Bangkok, dan daripada hanya berkeliling di dalam kota Bangkok, aku mengajak keluargaku untuk jalan-jalan di Ayutthaya. Yah hitung-hitung buat menambah wawasan dan pengetahuan anak-anakku sekaligus mencoba ikut merasakan sisa-sisa kebesaran Thailand di masa lampau.

Jadilah pagi itu aku dan keluarga berangkat dari Bangkok dengan mobil sekitar jam 08.00 pagi. Tujuannya langsung  ke Ayutthaya, sebuah kota yang dibangun di sebuah delta sungai, sehingga seolah-olah berdiri di atas sebuah pulau yang dikelilingi oleh aliran sungai. Ada tiga sungai yang mengelilingi Ayutthaya, yaitu Sungai Chao Phraya, Sungai Lopburi, dan Sungai Pa Sak. Kota yang didirikan oleh Raja U Thong ini pernah menjadi ibu kota Thailand sejak tahun 1350 hingga tahun 1767 dengan nama Phra Nakhon si Ayutthaya. Sekarang sih kota ini hanyalah sebuah kota yang tidak terlalu besar dan sudah ditetapkan menjadi salah satu Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) oleh UNESCO karena banyaknya bangunan peninggalan abad yang silam di sana. Meskipun demikian, bayangan keindahan dan keagungannya di masa lalu masih cukup terasa. Menurut orang-orang yang aku temui di sana, butuh waktu minimal dua hari kalau kita mau menjelajahi seluruh Ayutthaya. itu karena banyaknya tempat menarik yang bisa dikunjungi disana. Aku sendiri waktu itu sayangnya cuma memiliki waktu hampir seharian untuk menjelajah Ayutthaya. Hasilnya . . . ya pasti rasanya kurang puas.

Memang dengan kurang lebih tiga buah kompleks istana dan lebih dari 400 candi baik yang masih utuh maupun sudah berbentuk puing yang tersebar di seantero kota, belum lagi tugu dan monumen peringatan di sana sini, menyebabkan Ayutthaya patut menjadi salah satu tujuan para pecinta fotografi dan juga pecinta wisata sejarah tentunya.

Kendaraanku sudah mendekati Ayutthaya pada sekitar jam 10.00. Masih belum terlalu panas untuk langsung mulai menjelajah kota. Begitu memasuki daerah itu, mataku terbelalak melihat betapa banyaknya reruntuhan candi di sana. Candi-candi di Ayutthaya berbeda dengan candi-candi yang biasa kita temui di Jawa Tengah ataupun di berbagai tempat lain di Indonesia. Selain bentuknya, bahan pembuat candinya juga berbeda. kalau di Indonesia kebanyakan candi dibangun dengan bahan batu andesit, maka di Ayutthaya candi dibangun dengan mempergunakan bata merah. Ya mirip dengan candi-candi peninggalan era Majapahit di Jawa Timur gitu, cuma saja kalau yang di Jawa Timur merupakan candi candi Hindu, maka yang di Ayutthaya merupakan candi-candi Buddha. Menurut ceritanya, pada masa kejayaannya, bata merah di candi-candi itu tidak terlihat karena tertutup lapisan emas. Dan yang berlapis emas bukan hanya bagian luar candi, arca yang ada di dalamnyapun berlapiskan emas. Sayang semuanya itu lenyap, selain karena peperangan, juga lenyap tergerus waktu.

Untuk bentuk candinya, secara umum bisa dibagi menjadi dua jenis. Yang stupanya berbentuk runcing di atas dasar berbentuk bundar atau segi empat biasa disebut ‘chedi‘; sedangkan yang bentuknya mirip tongkol jagung disebut ‘prang‘. Chedi  merupakan bentuk asli Thailand, sementara Prang merupakan bentuk stupa yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Kamboja, yang pada masa lalu lebih dikenal dengan sebutan Khmer.

Semula aku bingung juga menetapkan urutan tujuan yang akan dikunjungi dan di-‘explore‘ di kota Ayutthaya yang sekarang sudah menjadi kota yang cukup modern ini. Apalagi dengan sangat terbatasnya waktu yang aku miliki. Akhirnya setelah bertanya kanan kiri dan juga berdiskusi dengan temanku yang ikut mengantar aku dan keluarga ke situ, diputuskan untuk menuju ke kompleks Istana Bang Pa In terlebih dahulu.

Istana Bang Pa In merupakan istana peristirahatan keluarga Kerajaan Thailand pada musim panas. Menurut sejarahnya kompleks ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Prasat Thong, yaitu pada tahun 1632. Sudah cukup tua ya? Kemudian pada masa pemerintahan Raja Mongkut, yaitu dipertengahan tahun 1800-an, kompleks istana ini sempat juga direstorasi. Tetapi sebagian besar bangunan yang masih bisa kita saksikan sekarang sih dibangun pada masa pemerintahan Raja Chulalongkorn. Istana ini sampai sekarang masih dipergunakan. Untungnya pada saat aku dan keluargaku berkunjung ke sana, tidak ada keluarga kerajaan yang sedang berlibur di Bang Pa In, sehingga aku dan keluarga diperkenankan masuk dan melihat-lihat keindahan dalam kompleks istana ini.

Kompleks istana yang terletak di bantaran Sungai Chao Phraya ini sangat luas dengan berbagai bangunan yang indah dan megah di dalamnya, dilengkapi pula dengan danau buatan dan taman serta kebun yang terawat rapi. Karena sangat luas inilah maka setelah memperoleh tanda masuk di gerbang penjagaan, banyak pengunjung yang memilih untuk mengendarai mobil golf yang bisa disewa di sana untuk menjelajahi kompleks istana musim panas ini. Aku dan keluarga lebih memilih untuk berjalan kaki saja sehingga bisa lebih leluasa pada saat melihat-lihat di dalam kompleks istana itu.

Bangunan pertama yang menarik perhatian di sana adalah sebuah bangunan bergaya asli Thailand dan terletak di tengah danau buatan. Bangunan mungil yang sangat cantik itu disebut Phra Thinang Aisawan Thippaya-at. Wah namanya panjang dan susah juga diucapkan dengan lidah kita. Menurut temanku, kita bisa menyebutnya dengan nama Aisawan Thippaya-at saja. Bangunan ini merupakan duplikat dari sebuah bangunan serupa yang berada di dalam Istana Kerajaan di Bangkok. Bangunan ini kosong dan hanya berisi patung Raja Chulalongkorn.

Aisawan Thipphaya-at

Di tepi danau buatan dan juga berdekatan dengan Aisawan Thipphaya-at, terdapat sebuah bangunan kokoh bergaya art deco. Sayang aku lupa namanya. Bangunan ini masih sering dipergunakan jika Raja berkunjung ke Ayutthaya. Untuk masuk ke dalam bangunan ini, semua pengunjung wanita diharuskan mengenakan semacam kain yang bisa dipinjam dari pos penjagaan yang ada di dekat pintu masuk gedung itu. Di dalamnya kita juga tetap tidak bisa melihat seluruh isi gedung karena yang dibuka untuk umum hanyalah sampai ke ruang singgasana raja.

Dari gedung itu, aku dan keluargaku berjalan sedikit menyusuri tepian Sungai Chao Phraya, kemudian menyeberang melalui sebuah jembatan yang di sepanjang tembok pembatasnya dihiasi dengan berbagai patung bergaya Eropa klasik.

The bridge over Chao Phraya River

Di ujung jembatan itu berdiri kokoh sebuah bangunan satu lantai bergaya sebuah mansion yang disebut dengan nama Uthayan Phumisatian. Gedung ini sekarang sangat jarang dipergunakan, kecuali untuk acara-acara kenegaraan. Tidak jauh dari gedung tersebut berdiri sebuah menara pengawas yang disebut Ho Withun Thasana. Dan di sebelah Ho Withun Thasana ini berdiri sebuah bangunan bergaya tradisional China yang dikenal dengan nama Phra Thinang Wehat Chamrun.

Selain berbagai gedung yang sudah sempat aku sebutkan itu, di kompleks istana ini ada juga semacam bangsal pamer yang disebut Saphakhan Ratchaprayun. Bangsal ini berfungsi juga sebagai museum yang berisi sejarah perkembangan Istana Bang Pa In. Ada juga sebuah tugu peringatan yang dibangun untuk mengenang Ratu Sunanda Kumariratana yang meninggal karena kapalnya tenggelam di Sungai Chao Phraya dalam perjalanan dari Bangkok ke Bang Pa In. Di seberang sungai juga terdapat sebuah bangunan unik bernama Wat Niwet Thamprawat. Sepintas orang akan menduga kalau bangunan itu adalah sebuah gereja bergaya Gothic, tetapi itu sebetulnya adalah sebuah Kuil Buddha. Sayang aku belum sempat berkunjung ke situ.

Tidak terasa hampir tiga jam aku dan keluarga berjalan-jalan menjelajahi sebagian sudut-sudut kompleks istana ini sebelum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Wat Yai Chai Mongkol, sebuah candi dengan stupa dan patung Buddha yang sangat besar. Stupa di candi itu berbentuk chedi. Karena besarnya, chedi dari Wat Yai Chai Mongkol sudah tempak dari jauh. Di bagian belakang dan samping candi utama, berderet patung-patung Buddha dalam sikap samadhi. Menurut dugaanku, alas patung-patung tersebut merupakan tempat persemayaman abu jenazah, karena di bawah tiap patung itu tampak ada semacam ceruk, dan banyak diantara ceruk-ceruk itu yang sudah ditutup dan tampak ada tulisan nama dan tahun. Betul begitu? Sayangnya sampai sekarang aku tetap belum dapat jawabannya.

Wat Yai Chai Mongkol mulai dibangun oleh Raja U Thong pada tahun 1357 untuk dipergunakan oleh para biksu yang baru kembali dari menuntut ilmu di Srilangka. Sementara itu, chedi raksasanya sendiri baru dibangun pada tahun 1592 sebagai peringatan akan kemenangan Raja Naresuan yagn berhasil memenangkan duel melawan putera mahkota kerajaan Burma. Dalam kompleks percandian ini juga terdapat sebuah monumen yang didedikasikan kepada Raja Naresuan yang merupakan salah satu raja besar di Thailand. Bangunan monumen itu sendiri sih relatif masih baru dan bergaya modern.

Dalam kompleks yang sama, terdapat juga reruntuhan Wat Lokaya Sutha, dimana terdapat patung Buddha berbaring yang cukup besar dengan panjang kurang lebih 42 meter.

Dari Wat Yai Chai Mongkol, aku dan keluarga kemudian menuju ke Viharn Phra Mongkol Bophit. Bangunan ‘viharn‘ atau vihara ini memang masih baru, tetapi patung Buddha perunggu setinggi 17 meter yang ada didalamnya merupakan peninggalan abad pertengahan. Menurut sejarahnya, vihara ini aslinya dibangun pada tahun 1610, tetapi kemudian roboh di tahun 1767. Semenjak robohnya gedung vihara, patung Buddha raksasa yang dibuat di Wat Chichiang itu dibiarkan berada di tempat terbuka selama hampir 200 tahun. Barulah pada awal abad XX vihara ini dibangun kembali dengan bentuk yang lebih modern. Patung Buddha yang semula berwarna hitam juga dicat ulang dengan warna emas seperti yang tampak sekarang. Vihara ini masih terus dipergunakan sebagai tempat ibadah dan juga dianggap sebagai tempat yang suci.

Giant Buddha at Viharn Phra Mongkol Bophit

Di sebelah Viharn Phra Mongkol Bophit terdapat kompleks percandian lain yang disebut Wat Phra Sri Sanphet. Kompleks percandian ini sebenarnya merupakan lokasi istana kerajaan sejak jaman pemerintahan Raja Ramathibodi I (tahun 1350) hingga jaman pemerintahan Raja Sam Phraya (tahun 1448), sebelum akhirnya Raja Borommatrailokanat memerintahkan pembangunan candi ini untuk dipergunakan sebagai pusat peribadatan. Raja Ramathibodi II yang merupakan putera dari Raja Borommatrailokanat kemudian memerintahkan membangun dua buah chedi di kompleks percandian tersebut, yang dipergunakannya untuk menyimpan abu jenazah ayah dan juga abu jenazah saudaranya, yaitu Raja Borommarachathirat III. Beberapa tahun kemudian chedi ketiga didirikan untuk menyimpan abu jenazah Raja Ramathibodi II sendiri. Sampai sekarang ketiga chedi ini masih berdiri dengan kokoh di situ.

Dalam perjalanan keluar dari kompleks Wat Phra Sri Sanphet, di penjual souvenir yang mangkal disitu, aku melihat selembar postcard bergambarkan patung kepala Buddha yang dibelit akar pohon. Keingintahuan dan ketertarikan saat melihat postcard itulah yang akhirnya mengantar aku dan keluarga untuk juga berkunjung ke Wat Mahathat.

Aku dan keluargaku tiba di Wat Mahathat selepas tengah hari. Meskipun demikian, terik matahari tidak begitu terasa karena di kompleks percandian ini ditumbuhi pepohonan yang cukup rimbun. Tidak jauh dari gerbang masuk, sampailah aku di tempat yang aku tuju itu. Sejenak aku terpana takjub melihat patung yang terbelit akar pohon tersebut. Aku lihat istri dan kedua anakku juga sempat tertegun sejenak menyaksikan patung kepala Buddha yang seolah-olah masuk dalam pelukan akar pohon itu.

The Buddha’s head at Wat Mahathat

Meskipun terbilang unik, patung kepala Buddha itu merupakan salah satu patung yang dianggap suci oleh masyarakat Thailand yang memang penganut agama Buddha yang taat. Dan karena posisi patung yang relatif rendah, untuk menghormatinya, pengunjung yang berada di dekat patung itu diharuskan berjongkok.

Wat Mahathat sendiri merupakan salah satu candi di Ayutthaya yang disucikan, karena di kompleks candi ini pernah ditemukan relik Sang Buddha sendiri. Oleh karena itulah pada saat menjelajah sudut-sudut kompleks percandian yang dibangun pada tahun 1374 ini, aku juga tidak berani sembarangan.

Dari Wat Mahathat, tampak ada sebuah prang yang kelihatan masih relatif utuh di kejauhan. Waktu aku tanyakan, ternyata itu adalah prang dari Wat Ratchburana yang dibangun oleh Chao Sam Phraya, putra dari Raja Intharachathirat, dan dipergunakan untuk menyemayamkan abu jenazah ayah dan kedua kakaknya. Candi itu dibangun di lokasi pertempuran kedua kakaknya sewaktu mereka berebut tahta sepeninggal ayahnya. Sayang waktu itu aku tidak sempat berkunjung ke Wat Ratchburana, dan harus puas hanya dengan memandang prang-nya dari kejauhan.

Dari kompleks Wat Mahathat, aku kembali meneruskan perjalanan ke sebuah bangunan yang terlihat relatif masih baru. Tetapi ternyata bangunan ini sebetulnya merupakan bangunan yang telah dibangun sejak tahun 1499 oleh Raja Ramathibodi II. Bangunan berupa vihara ini merupakan satu-satunya vihara di Ayutthaya yang lolos dari penghancuran oleh tentara Burma yang menyerbu Thailand dimasa lalu, karena disinilah Raja Thailand dan Raja Burma pada waktu itu menandatangi perjanjian perdamaian. Di vihara yang disebut Wat Na Phramane ini kita bisa melihat satu-satunya patung Buddha yang digambarkan dengan semua atribut kebesarannya.

Tidak terasa hari telah beranjak sore, dan aku harus segera kembali ke Bangkok supaya tidak kemalaman di jalan. Tetapi karena masih belum puas menjelajah, aku mengajak keluargaku untuk mampir sebentar di satu kompleks percandian lagi. Akhirnya yang dipilih adalah Wat Chaiwatthanaram.

Wat Chaiwatthanaram

Kompleks ini merupakan reruntuhan sebuah biara yang dahulu dibangun atas perintah Raja Prasatthong pada tahun 1630. Kedua anakku yang langsung masuk dan menjelajah kompleks percandian yang sepi ini berkomentar bahwa mereka merasa berada di sebuah kota yang hilang ditelan waktu. Semula aku tersenyum saja mendengar komentar mereka yang aku anggap muncul karena mereka sering membaca berbagai cerita fantasi. Tetapi setelah merenung dan merasakan kesunyian di kompleks percandian ini, aku bisa merasakan kesan yang sama yang dirasakan oleh kedua anakku itu, yang semula aku kira hanya fantasi mereka. Dalam sunyi, aku merasakan aura yang kuat sehingga lamat-lamat aku mulai bisa merasakan suasana kehidupan di tempat itu pada saat kompleks percandian ini masih dipergunakan. Senja yang mulai turun lebih menguatkan kesan itu. Suasana yang tidak biasa itu juga tampaknya dirasakan oleh kedua anakku, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi kunjungaku di Wat Chaiwatthanaram, dan mengajak kedua anakku untuk segera keluar dari kompleks percandian itu dengan bulu kuduk yang meremang. Apakah itu hanya perasaanku saja? Entahlah. Tapi yang jelas sejak awal istriku sudah tidak mau ikut menjelajah tempat itu, sementara kedua anakku juga tidak banyak berceloteh seperti biasanya selama berada di dalam kompleks percandian itu.

Dari Wat Chaiwatthanaram, aku dan keluarga langsung kembali ke Bangkok dengan melewati Phra Chedi Sri Suriyothai yang dibangun untuk mengenang kegagahan Ratu Sri Suriyothai, Srikandi Thailand yang bertempur dengan gagah berani melawan tentara Burma.

Sebetulnya masih banyak kompleks percandian dan tempat menarik di Ayutthaya yang belum dikunjungi. Pastilah masing-masing tempat tersebut memiliki keunikan dan ceritanya sendiri-sendiri. Mudah-mudahan saja aku masih berkesempatan berkunjung lagi ke Ayutthaya untuk mengunjungi candi-candi lain yang belum sempat aku datangi waktu itu. Bahkan kalu mungkin menginap juga  di Ayutthaya, sehingga bisa berkunjung ke beberapa candi itu pada malam hari. Pasti keindahan dan suasananya akan lain jika dibandingkan dengan siang harinya.–

Categories: Travel Notes | Tags: , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Kotaraja yang hilang ditelan waktu

  1. Pingback: KOTARAJA YANG HILANG DITELAN WAKTU | Home Far Away From Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: