Jalan-jalan ke Vietnam Utara

Ini juga salah satu catatan perjalanan yang semula aku post di Multiply. Semula memang cuma mau aku simpan saja di harddisk, tapi karena ada saja teman-teman yang masih bertanya-tanya mengenai keadaan di Vietnam Utara, ya sudah aku post lagi saja catatan perjalananku ini. Tentu saja sekarang keadaannya sudah banyak berubah, mengingat aku dan keluargaku kluyuran di sana sudah beberapa tahun yang lalu. Meskipun demikian, point of interest-nya masih saja tetap, hanya saja mungkin sekarang dengan fasilitas yang jauh lebih baik, atau bahkan dengan point of interest yang lebih banyak lagi jika dibandingkan dengan waktu itu. Apalagi dengan majunya pariwisata Vietnam Utara akhir-akhir ini yang tampak dari banyaknya tour agent yang menawarkan perjalanan ke sana. Aku sendiri waktu itu tidak ikut rombongan tour, melainkan merancang sendiri rute perjalanan dan tempat-tempat mana saja yang ingin dikunjungi.

Memang sih perjalanan ke Vietnam Utara belum sepopuler perjalanan ke Vietnam Selatan. Apalagi waktu aku kesana dulu itu. Tapi justru inilah yang membuatku tertarik. Aku ingat waktu itu beberapa temanku yang kebetulan tahu rencana perjalananku bersama keluarga ke sana bilang apa gak salah liburan koq ke Vietnam Utara? Ada juga yang bilang, apa gak takut kena ranjau, kan disana bekas medan perang? Belum lagi ada yang nyeletuk, bahwa itu negara komunis, sehingga segala sesuatu disana pasti tidak menyenangkan, serba kaku dan dingin. Memang omongan-omongan itu sempat membuat aku ragu. Tetapi keinginan melihat sendiri keindahan Teluk Ha-long dan daerah persawahan di Tam-coc membuat aku tetap bertekad berangkat.

Akhirnya, pada waktu yang telah aku tentukan, aku beserta istri dan kedua anakku jadi juga berangkat. Pesawat Singapore Airlines yang aku tumpangi mendarat di Bandara Noi Bai, Ha-noi. Bandaranya relatif sepi. Petugas berseragam militer tanpa senyum banyak sekali di areal bandara, sehingga seperti keadaan darurat saja suasananya. Mungkin sekarang sudah lain.

Turun dari pesawat, aku dan keluarga ikut saja dengan penumpang lainnya yang juga turun di situ, langsung menuju ke counter imigrasi. Pelayanannya ok juga, sehingga tidak terlalu lama kemudian aku dan keluarga sudah menuju ke tempat pengambilan bagasi. Karena penumpang yang turun di Ha-noi waktu itu tidak banyak, maka urusan bagasipun lumayan cepat.

Aku dan keluarga langsung menuju pintu keluar sambil clingak-clinguk mencari temanku yang berjanji akan jemput di bandara dan jadi guide selama perjalanan di Vietnam Utara ini. Kebayang kan, apa jadinya jalan sendiri di tempat asing yang bahasanya gak dikenal sama sekali kalau tanpa orang lokal yang bisa dipercaya? Untungnya tidak lama kemudian, seorang laki-laki datang menghampiri sembari membawa kertas bertuliskan namaku. Ternyata inilah tampang Nguyen Thuyen teman yang memang belum pernah ketemu sebelumnya dengan aku. He he he . . . konyol juga sih kalau dipikir-pikir. Jadi teman cuma kenal di dunia maya, terus minta tolong untuk jadi guide dengan janji kalau dia ke Indonesia aku yang akan jadi guide dia. Untung dia baik dan gak macam-macam selama menemani aku dan keluarga di sana.

Dari Bandara, aku sekeluarga langsung menuju Ha-long Bay, dan diperjalanan menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah tempat penampungan anak-anak korban perang. Kasihan juga lihat kondisi anak-anak itu. Kalau cuma yatim piatu saja sih masih bagus. Ini banyak yang kehilangan kaki atau tangannya karena kena ledakan ranjau. Meskipun demikian, mereka masih tampak ceria dan giat membuat kerajinan yang dijual sebagai cendera mata. Rupanya tempat ini merupakan tempat pelatihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah untuk membina para korban perang itu.

Menjelang sore aku dan keluarga sampai di kota Ha-long yang terletak di sebuah teluk, sehingga teluk itu juga dinamai Ha-long. Teluk Ha Long merupakan teluk yang indah dengan airnya yang tenang karena terbentengi dengan puluhan, atau mungkin ratusan bukit batu kapur yang menonjol di permukaan laut. Menurut legenda setempat, bukit-bukit kapur yang menonjol dari dalam laut itu sebetulnya adalah permata dan batu giok yang dimuntahkan oleh satu keluarga naga yang pada jaman dahulu diutus oleh Kaisar Langit untuk melindungi tanah Vietnam dari serbuan pasukan angkatan laut Kerajaan Mongol. Begitu menyentuh air Laut, permata dan batu giok itu berubah menjadi bukit batu kapur dengan aneka bentuk dan usuran itu. Karena itulah, masyarakat menyebut tempat itu Vinh Ha-long, atau Teluk tempat dimana Naga turun ke bumi.

Keesokan paginya aku dan keluarga dengan ditemani Thuyen menuju dermaga untuk menyewa perahu yang akan dipakai berlayar menjelajah sebagian kecil perairan Teluk Ha-long.  Lho . . . koq cuma sebagian kecil?  Iya, selain karena kawasan perairan teluk Ha-long cukup luas, ternyata disana lamanya cruise bisa diatur karena pemilik perahu sudah memiliki paket-paket penjelajahan dengan taripnya sendiri-sendiri. Yang paling singkat membutuhkan waktu kira-kira 5 jam, dengan bonus mengunjungi sebuah pulau dimana terdapat sebuah gua yang sangat indah, mengunjungi perkampungan terapung yang ditinggali masyarakat nelayan setempat, dan juga menikmati makan siang di kapal. Paket lain ada yang bahkan sampai 3 hari 2 malam. Jadi selama dua malam menginap di kapal. Kelihatannya asyik juga ya. Mungkin lain kali perlu dicoba.

Saat itu aku memilih paket cruise yang tersingkat. Meskipun relatif singkat, perjalanannya cukup menyenangkan. Sepanjang perjalanan, aku dan keluarga asyik juga mendengar cerita Thuyen mengenai Teluk Ha-long ini sambil melihat pemandangan berbagai macam bentuk dan ukuran bukit kapur yang bertonjolan di atas permukaan laut. Sesekali tukang perahu dan keluarganya ikut nimbrung ngoceh dengan bahasa Vietnam yang kemudian diterjemahkan oleh Thuyen sehingga aku dan keluaraga bisa mengerti maksudnya. Menjelang tengah hari, istri si tukang perahu mulai masak aneka sea-food untuk makan siang. Makanannya cukup enak. Apalagi bahannya masih segar, dimakan di atas kapal sambil menikmati belaian angin laut dan pemandangan yang mengagumkan.

Pelayaran singkat tersebut selesai menjelang sore. Aku dan keluarga dengan disertai Thuyen langsung berangkat menuju Ha-noi untuk bermalam disana, karena keesokan paginya akan berkunjung ke Hua-lu yang merupakan ibu kota Kerajaan Vietnam sekitar seribu tahun yang lalu sekaligus juga berkunjung ke Tam-coc yang dikenal juga dengan sebutan Ha-long Bay on the Land.

Hari ketiga menjelang waktu makan siang aku dan keluarga sampai di Hua-lu. Tempat pertama yang dikunjungi adalah dua buah kelenteng tua yang ada di sana. Kedua kelenteng itu terpisah satu sama lain kira-kira sejauh 100 meteran. Di salah satu kelenteng itu disimpan patung raja Vietnam pada masa seribu tahun yang lalu itu, yaitu Raja Dinh, sementara di kelenteng yang lain disimpan patung permaisuri raja tersebut yang diceritakan berselingkuh dengan salah satu jenderalnya yang kemudian mengangkat diri menjadi raja juga, dan terkenal dengan nama Raja Le. Uniknya, patung Sang Permaisuri diletakkan menghadap ke arah kelenteng dimana patung Raja Dinh dilletakkan. Menurut penjaga kelenteng, itu diartikan bahwa meskipun badannya ikut dengan Raja Le yang menjadi selingkuhannya, Ratu Duong Van Nga tetap harus menghormati Raja Dinh yang adalah suami sahnya.

Dari Hua Lu, perjalanan dilanjutkan menuju Tam-coc.  Tempat ini meskipun namanya Ha Long Bay on the Land, ternyata tetap saja harus menggunakan perahu kalau mau menjelajah karena kita harus menyusuri sungai Ngo-dong, cuma saja yang dipergunakan di sini lebih tepat disebut sampan daripada perahu, karena ukurannya yang kecil. Semula ngeri juga menaiki sampan tradisional beralas datar ini, tetapi ketika tahu bahwa airnya tidak dalam, hatiku mulai tenang. Tam Coc sendiri berarti Tiga Gua, karena memang kalau mau menyusuri sungai di lembah ini, kita akan menembus barisan perbukitan melalui tiga buah gua, dimana beberapa bagian gua tersebut cukup rendah, sehingga penumpang sampan harus menunduk dalam-dalam kalau tidak mau punya kepala benjol sekeluarnya dari gua-gua itu. Sebetulnya gua-gua tersebut merupakan jalan aliran air yang menembus bukit, yang lama kelamaan melebar menjadi gua seiring dengan berlalunya waktu.

Perkiraanku semula yang menganggap bahwa di situ paling-paling hanya melihat gugusan bukit batu yang berserakan seperti waktu di Teluk Ha-long ternyata salah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sewaktu kita keluar dari gua yang pertama melalui pintu belakang gua, seolah-olah kita memasuki suatu dunia yang lain. Suasananya betul-betul berbeda. Sunyi, suara yang terdengar hanyalah kecipak dayung yang digerakkan dua orang wanita desa setempat yang mengemudikan sampan itu. Angin bertiup lembut sehingga udara pegunungan yang dingin menjadi semakin terasa, sementara di sekeliling kita perbukitan berdiri dengan kokohnya. Kuat dan indah. Terasa betapa kecilnya kita di tengah alam ciptaanNya.

Sayang aku berkunjung pada waktu yang kurang tepat. Saat itu yang aku lihat adalah dataran kosong, padahal sebetulnya itu adalah daerah persawahan penduduk setempat. Seandainya aku kesana pada saat sawah di sepanjang aliran sungai Ngo-dong itu sudah ditanami, pastilah pemandangannya jauh lebih indah. Aku dan keluarga menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk menjelajahi daerah itu, sebelum akhirnya harus bergegas kembali ke Ha-noi sebelum gelap karena aku dan keluarga sudah ditunggu untuk makan malam di sana.

Dua hari berikutnya banyak dihabiskan untuk berkeliling di Ha-noi yang ternyata juga memiliki cukup banyak tempat yang menarik. Karena merupakan kota air, Ha-noi memiliki banyak danau. Dari sekian banyak danau, yang paling banyak dikunjungi adalah Danau Barat (West Lake) dimana di sekitarnya terdapat perumahan elite warga Hanoi, dan Danau Pedang atau Danau Hoan-kiem yang terletak di tengah kota. Di tengah danau itu terdapat sebuah pulau kecil yang diatasnya berdiri sebuah bangunan yang sudah cukup tua, dan dikenal sebagai Menara Kura-Kura. Menurut kepercayaan penduduk setempat, di danau tersebut hidup banyak kura-kura, sehingga Danau Hoan-kiem sering pula disebut sebagai Danau Kura-Kura.

Di salah satu tepi Danau Hoan-kiem terdapat sebuah bangunan kelenteng tua yang dikenal dengan nama Kelenteng Ngoc-son. Kelenteng ini masih aktif dipergunakan sebagai tempat ibadah sampai sekarang. Di halaman belakang kelenteng terdapat teras yang dilengkapi dengan kursi-kursi batu, sehingga pengunjung bisa bersantai sambil memandangi keindahan danau.

Aku dan keluarga sempat juga menonton pertunjukan wayang golek khas Vietnam yang panggung pertunjukkannya berupa kolam berisi air. Karena itulah wayang golek Vietnam ini dikenal sebagai wayang air. Kebetulan gedung pertunjukannya berada tidak jauh dari Danau Hoan-kiem. Menurut cerita, wayang air diciptakan oleh para petani yang mencari hiburan setelah panen usai dan sawah-sawah tinggal berupa hamparan yang digenangi air. Pertunjukannya lumayan menarik, karena gerakan beberapa bonekanya cukup lucu. Jadi meskipun dibawakan dalam bahasa Vietnam yang tidak aku pahami, aku dan keluarga masih bisa ikut tertawa di beberapa adegan.

Selesai menonton wayang air, aku meneruskan jalan-jalan di sekitar situ, karena daerah itu juga dikenal dengan nama Old Quarter yang merupakan “alun-alun” kota Ha-noi. Old Quarter ini lumayan luas, meliputi 36 ruas jalan dan gang. Uniknya, para pedagang disana membuka lapaknya secara berkelompok. Jadi misal di suatu jalan kita dapati penjual souvenir, maka bisa dipastikan sepanjang jalan tersebut semua lapak dan toko menjual souvenir pula. Demikian pula pedagang pakaian akan berkumpul dengan sesama pedagang pakaian di suatu jalan, dan toko obat berderet di jalan yang lain pula. Oleh karena itu, nama jalan di Old Quarter disesuaikan dengan isinya. Jadi ada jalan souvenir, jalan kerajinan perak, jalan obat-obatan, dan lain sebagainya. Old Quarter bisa menjadi surga belanja bagi para penggila belanja. Selain lengkap dan relatif murah, kita juga jadi punya banyak pilihan dan mudah melakukan perbandingan. Disamping itu, toko-toko di sini buka hampir 24 jam lho.

Selain deretan toko, di sini juga masih bisa kita jumpai Rumah Panjang khas Vietnam. Disebut Rumah Panjang karena memang rumah ini betul-betul bisa sangat panjang. Lebarnya sih paling cuma beberapa meter, tetapi panjangnya bisa mencapai puluhan meter. Bahkan katanya ada yang mencapai lebih dari 100 meter. Biasanya Rumah Panjang dihuni oleh beberapa keluarga yang masih ada hubungan saudara satu sama lain.

Tempat lain yang juga tidak boleh dilewatkan kalau kita berkunjung ke Ha-noi adalah Ho Chi Minh Moussoleum, yang merupakan tempat dibaringkannya jenazah Paman Ho yang masih utuh karena sudah dibalsem. Jenazahnya betul-betul terawat dengan baik, sehingga kelihatan seperti orang sedang tidur.

Di belakang Mousoleum ini terdapat Gedung Negara yang masih dipergunakan sebagai tempat menginap para tamu negara.

Di sebelah belakang dari Gedung Negara, terdapat sebuah kompleks bangunan yang dilengkapi kebun dan taman yang luas. Di situlah Presiden Ho Chi Minh dahulu bertempat tinggal. Di sana pengunjung bisa melihat replika ruang tidur, ruang kerja, dan ruang makan yang dibangun dan dilengkapi sedemikian rupa sehingga bisa menggambarkan kondisi pada saat ruangan tersebut masih dipergunakan oleh Paman Ho. Ruangan-ruangan tersebut dibangun di dalam rumah kayu yang menggambarkan tempat tinggal paman Ho yang menyukai hidup dalam kesederhanaan. Di samping rumah kayu tersebut masih terdapat sebuah bunker perlindungan juga.

Tidak jauh dari kompleks Gedung Negara, terdapat sebuah pagoda yang unik, karena berdiri di atas sebuah tiang, sehingga dikenal sebagai Pagoda Satu Tiang (One Pillar Pagoda). Bangunan ini didirikan oleh Kaisar Ly Thay-tong yang memerintah Vietnam antara tahun 1028 sampai 1054. Pagoda kayu yang berdiri di atas tiang beton ini menggambarkan sekuntum bunga lotus yang sedang mekar di atas telaga. Menurut kepercayaan agama Buddha, bunga lotus adalah lambang dari kesucian.

Tempat lain yang juga layak dikunjungi adalah sebuah bangunan kuno yang merupakan universitas tertua di Vietnam. Bangunan ini semula dipergunakan sebagai tempat beribadah para pemeluk agama Kong Hu Cu, baru kemudian pada sekitar tahun 1076 di dalam kompleks tempat peribadatan ini didirikan Akademi Kerajaan untuk mendidik para birokrat dan bangsawan. Sekarang tempat ini terkenal dengan namaTemple of Literature (Van Mieu). Selain kelenteng yang cukup besar dan terawat baik, di dalam kompleks ini kita masih bisa melihat deretan papan batu yang diatasnya terukir nama-nama orang yang telah lulus dari lembaga pendidikan ini dan tahun berapa mereka lulus.

Sebetulnya masih banyak tempat menarik di Hanoi yang bisa dikunjungi juga. Misal saja gedung Stasion Kereta Api Hanoi yang masih menyisakan bekas-bekas peluru di dindingnya, juga ada French Quarter dimana terdapat Gedung Opera dan Hotel Metropole yang bergaya Perancis, atau bekas penjara Hoa-lo yang pada masa perang terkenal dengan sebutan Hanoi Hilton. Ada pula Katedral Santo Yosep yang bergaya Gothic dan masih banyak pula kelenteng maupun pagoda peninggalan jaman dulu yang masih terawat dan bisa dikunjungi. Belum lagi berbagai museum yang tentu juga menarik. Lima hari di Vietnam Utara rasanya tidak cukup untuk menjelajahi itu semua.–

Categories: Travel Notes | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: