Tradisi ngiring penganten di Lombok

Perkawinan merupakan salah satu ritual dalam kehidupan yang dianggap penting karena menandai bersatunya sepasang insan dari dua keluarga yang berbeda menjadi satu keluarga baru. Karena itu pulalah, biasanya upacara perkawinan dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi suatu peristiwa yang tidak terlupakan. banyak cara dipergunakan untuk membuat sebuah acara yang akan menjadi kenangan seumur hidup. Baik berupa pesta meriah yang dihadiri segenap keluarga, kerabat dan kenalan, maupun berbentuk suatu acara adat. Untuk acara adat itu sendiri, sangat banyak jenis dan ragamnya. Biasanya tiap daerah memiliki tata cara adatnya masing-masing, sehingga acara adat tersebut menjadi sesuatu yang menarik dan unik jika dipandang dari kacamata masyarakat daerah lain.

Pada saat melakukan perjalanan ke Pulau Lombok baru-baru ini, aku sempat secara sepintas menyaksikan acara ngiring penganten menurut adat Sasak yang dikenal dengan istilah nyongkolan. Hal itu bermula ketika dalam perjalanan menuju salah satu tempat, laju kendaraanku terhalang oleh iringan orang berpakaian adat yang diiringi oleh musik yang meriah. Kiki, teman yang menemani aku dalam perjalanan selama di Lombok, menerangkan bahwa pada masa sehabis panen seperti waktu itu, apalagi pada hari Sabtu atau Minggu, akan mudah sekali dijumpai iring-iringan seperti itu, karena masa itu merupakan masa dimana banyak penduduk melakukan acara perkawinan.

Nyongkolan itu sendiri merupakan acara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. Pada ritual itu, sepasang pengantin akan berjalan dari kediaman keluarga pengantin pria menuju kediaman keluarga pengantin wanita dengan diiiring oleh keluarga dan juga masyarakat setempat yang biasanya juga diikuti oleh tokoh masyarakat, pemuka agama dan juga pemuka adat setempat. Orang-orang yang melakukan nyongkolan ini semuanya mengenakan pakaian adat lengkap, dimana yang pria juga akan membekal keris atau golok yang diselipkan di pinggang ataupun disandang di punggungnya, sementara yang wanita mengenakan kebaya khas Suku Sasak lengkap dengan semua aksesorisnya.

nyongkolan

nyongkolan

Upacara nyongkolan biasanya diikuti oleh banyak orang, dan pasangan pengantin yang diarak diperlakukan seperti seorang raja dan ratu yang berjalan diiringkan oleh para pengawal, prajurit dan dayang-dayangnya. Oleh karena itulah pengantin sering pula disebut raja sejelo yang artinya raja sehari. Ada kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, yaitu bahwa jika seseorang menolak untuk ikut sebagai pengiring dalam acara nyongkolan, maka jika suatu saat orang tersebut mengadakan acara nyongkolan, akan banyak pula orang yang akan menolak untuk mengiringinya. Jadi, dengan melihat dari panjangnya barisan, bisalah diketahui apakah sang mempelai termasuk orang yang mudah bersosialisasi atau bukan.

Tradisi nyongkolan diadakan selain untuk mengantar sepasang mempelai ke rumah keluarga mempelai wanita, juga dimaksudkan sebagai sarana pengumuman kepada masyarakat banyak bahwa pasangan yang diiringkan tersebut sudah resmi menikah, dan diharapkan juga bahwa tidak akan ada lagi orang yang mengganggu pasangan tersebut.

a procession to accompany the bride and the groom

a procession to accompany the bride and the groom

Nyongkolan ini bisa dibilang merupakan puncak dari ritual bersatunya seorang terune (pemuda) dengan seorang dedare (gadis) dalam suatu ikatan perkawinan yang sah menurut agama dan adat.

Kalau diurut ke belakang, tentunya persatuan tersebut tidak akan terjadi tanpa adanya perkenalan di antara kedua belah pihak. Jika dari perkenalan tersebut terjadi kecocokan, maka Sang Terune akan mengajak Sang Dedare menikah. Hanya saja menurut tradisi Sasak, tidaklah elok jika ada seorang pemuda yang datang melamar seorang gadis pujaannya begitu saja kepada orang tua Sang Gadis. Orang tua Sang Gadis juga akan merasa diremehkan jika hal tersebut terjadi karena dianggapnya Sang Pemuda tanpa usaha apapun datang untuk meminta anaknya yang sudah diasuh dan dibesarkannya dari kecil dengan susah payah. Oleh karena itu, untuk menunjukkan kesungguhan hatinya dan juga menunjukkan usahanya untuk mendapatkan gadis pujaannya, secara adat Sang Pemuda akan menculik Si Gadis dari rumah orang tuanya. Tradisi ini dikenal dengan nama merari.

Dalam melakukan tradisi merari ini, biasanya Si pemuda akan datang ke rumah Si Gadis pada malam hari dengan membawa sapu lidi. Jangan salah sangka . . . Si Pemuda tidak datang untuk menyapu halaman rumah gadis pujaannya itu :). Sapu yang dibawanya akan dipergunakan untuk “menyapu” pagar rumah Si Gadis sebagai tanda bahwa Si Pemuda sudah datang dan siap melarikannya.

Meskipun sudah berhasil melarikan gadisnya, secara adat Si Pemuda tidak diperkenankan membawa gadisnya itu ke rumahnya sendiri. Bahkan ditabukan jika mereka tinggal satu atap sebelum dilaksanakannya akad nikah. Oleh karena itu, Si Pemuda biasanya akan membawa Si Gadis ke rumah salah seorang kerabatnya untuk disembunyikan di situ karena Si Gadis tidak boleh sampai ditemukan oleh keluarganya yang pasti akan mencarinya.

Setelah lewat sehari, Si Pemuda akan memberitahukan kepada Kepala Desa ataupun Tetua Adat di desa tempat Si Pemuda tinggal bahwa dia telah menculik seorang gadis yang nantinya akan dinikahinya, sekaligus juga meminta kesediaan Sang Kepala Desa ataupun Sang Tetua Adat untuk menjadi utusan dari pihak Si Pemuda untuk memberitahukan kepada keluarga Sang Gadis, bahwa Sang Gadis telah diculik kekasihnya, dan sekarang masih disembunyikan di suatu tempat yang dirahasiakan.

Istilah setempat untuk menyebut tradisi dikirimnya utusan oleh pihak keluarga Si Pemuda kepada keluarga Si Gadis, adalah nyelabar. Dalam melakukan ritual nyelabar ini, selain Tetua Adat di desa tempat Si Pemuda tinggal, rombongan juga diikuti oleh kerabat Si Pemuda, tetapi orang tua Si Pemuda tidak diperkenankan ikut.

Barulah setelah pemberitahuan tersebut diterima oleh keluarga Si Gadis, secara musyawarah akan ditetapkan kapan dilaksanakannya akad nikah kedua mempelai yang kemudian dilanjutkan dengan nyongkolan. Biasanya tetangga dari kedua belah pihak secara bergotong royong ikut membantu mempersiapkan hajatan ini, yang dalam bahasa setempat disebut begawe. Karena persiapan yang kadang membutuhkan waktu beberapa hari, maka untuk menghibur mereka yang sudah membantu mempersiapkan acara itu, keluarga mempelai biasanya mengundang kelompok-kelompok kesenian tradisional Sasak seperti Gendang Beleq dan Joget.

Pada masa sekarang, tradisi ini sedikit memudar. Banyak yang sudah tidak menjalankannya lagi. Mungkin juga dengan pertimbangan kepraktisan. bagi yang masih menjalankannyapun sering kali tidak secara lengkap lagi ritualnya diikuti, bahkan sering terjadi akulturasi. Contoh yang mudah saja adalah dalam hal musik pengiring acara nyongkolan, jika dahulu berupa tetabuhan tradisional seperti gendang beleq ataupun gamelan beleq, maka sekarang banyak diiringi oleh drumband, kecimol, atau bahkan musik dangdut, seperti halnya rombongan yang sempat aku temui dalam perjalananku itu.

Mudah-mudahan saja tradisi yang unik ini tidak lenyap tergerus jaman. Bagaimanapun tradisi di suatu suku ataupun di suatu daerah pastilah mengandung kearifan lokal maupun pesan luhur nenek moyang kepada keturunannya. Semoga.–

 

Summary :

Sasak tribe in Lombok, Indonesia, has a unique marriage tradition. If a ‘terune‘ (a boy) fall in love with a ‘dedare‘ (a girl), and they decide to bind themselves in a marriage, the boy cannot just come to the girl’s parents and ask for their permission. It is considered impolite and also shows the boy’s laziness because the boy just comes and asks without any special efforts. Aside of that, the girl’s parents will feel offended as they feel the boy is not appreciate their efforts in taking care of their daughter since she was just a baby until then.

Because of that, the boy will traditionally kidnap the girl in a ritual called ‘merari‘. In the ritual, usually the boy will come to the girl’s home at night bringing a broom stick which then be used to scrape the fence of the girl’s home as a code that he has already arrived and ready to take her away from her home. The boy, then bring the girl to one of his relatives’ house, since they are not allowed to stay together before they are married.

After a day, the boy will inform the elders in his village that he has kidnapped a girl who then will become his wife. The boy will also ask one of the elders to come to the girl’s parents on his behalf and inform the parents that their daughter has already been kidnapped and now is hidden safely in a secret place. The ritual when one of the elders who accompanied by the boy’s family, except his own parents, to come to the girl’s parents is called ‘nyelabar

After everything are okay, then come the big day. After they officially married, the bride and the groom then will walk along the road from the groom’s family home to the bride’s family home. They will be accompanied by relatives, elders, and friends as if they are king and queen who make a journey accompanied by guards, maids, and soldiers; that is why the bride and groom are called ‘raja sejelo‘ in the local language, which means a king for a day. The procession itself is called ‘nyongkolan‘. In the procession, everybody join the procession should wear Sasak traditional attires.

walking along the road

walking along the road

Beside to bring the bride and groom to the bride’s old home and meet her parents, ‘nyongkolan‘ is also meant as an announcement that the two has already bound together in a marriage and no one can disturb them.

In the old day, ‘nyongkolan‘ will always be made lively by traditional music such as ‘gendang beleq’ or ‘gamelan beleq’. Nowadays, the music is more modern as well as the instruments. Some of them use drumband which called ‘kecimol‘ and play recorded song.

'kecimol' group in action

‘kecimol’ group in action

Hope that the unique tradition will not fade away by time, since in every tradition there must be local wisdoms and good teachings given by the ancestors.–

About these ads
Categories: Notes on Events | Tags: , , , | 80 Comments

Post navigation

80 thoughts on “Tradisi ngiring penganten di Lombok

  1. Seneng banget mas bisa lihat tradisi nyongkolan ini. Beda ya. arak-arakannya setelah upacaranya selesai malah. :D
    Seru mas baca tradisinya. Mas dapat info sedetail itu dari mana nih?

    • Iya nih kebetulan ketemu rombongan yang sedang melaksanakan nyongkolan ini. Sayangnya aku gak sempat lihat pas mereka disambut oleh keluarga pengantin perempuan karena waktunya gak sempet :(.
      Betul, mereka baru mengadakan acara ini setelah akad nikah.
      Soal info, untungnya teman yang ngantar aku disana tahu banyak mengenai hal ini karena dia orang lokal.

      • ooo. enaknya jalan sama yang mengerti gitu ya. sekalian tanya2. :)

      • Yup betul. Itu juga salah satu sebabnya kenapa aku selalu berusaha cari teman orang lokal untuk menemani jalan-jalan di suatu daerah :)

  2. mas apakah adat ini dijalankan secara umum di lombok? kalau saya gak salah inget ada penganut islam wetu telu dan hindu juga disana.

    salam
    /kayka

    • Setahu aku, ini tradisi Suku Sasak yang mayoritas beragama Islam, Mbak. Jadi memang hanya merekalah yang menjalankan tradisi ini.

  3. I’m glad there was translation :-)
    That is interesting. Where you a guest at the ceremony, or just passing by?

    • Yes, I agree with you. The ceremony is interesting.
      I was just passing by, but fortunately my local friend could tell a lot about the tradition.

  4. Ramai sekali ya pak iringan mantennya. Tapi itu payungnya kok mirip payung untuk orang meninggal ya.

    • Betul, Mbak. Ramai banget iring-iringannya sampai bikin macet jalan. Soal payung, memang mirip dengan payung yang Mbak Ika maksud di Jawa. Tapi itulah uniknya negara kita. Di suatu tempat dengan tempat lain bisa berbeda kegunaannya meskipun bentuknya mirip.

  5. 2 tahun lalu ketika saya berlibur, beruntung bisa melihat tradisi yg sama. Sangking macetnya jalanan, jadi kami berhenti sejenak dan mengamati arak-arakan penganten tsb.
    Semoga tradisi secaman ini tetap lestari, spy generasi mendatang tetap bisa meneruskannya :wink: .

    • Betul Mbak Nella. Apalagi kalau yang melakukan tradisi nyongkolan ini termasuk kaum bangsawan, pasti lebih ramai lagi. Ya memang tradisi demikian seharusnya tetap dilestarikan.

  6. Di Palembang juga ada tradisi mengiringi pengantin mas Chris. Disebut ngarak kalo di sini. Selain diiringin keluarga dari kedua belah pihak, juga diiringi oleh musik-musik gitu :)

  7. thanks for sharing…i enjoy seeing other spaces in our world…lovely post.

  8. Fascinating! Thanks for sharing.

  9. wow … pengen juga berada di sana langsung mas dgn suamiku :)

  10. sapu lidi… menginspirasi untuk nikah lari ya Om…
    menarik sekali… ini

  11. keren poto potonya pak

  12. Wow, what an interesting tradition! How cool! And really beautiful photos too :)

  13. Interesting custom but will freely admit that I’m happy it’s there custom and not ours. I wonder, are their relationships more successful?

  14. Tradisi ‘merari’ ajang pembuktian kesungguhan berani memanggul tanggung jawab yang khas Sasak ya Pak.
    Bila ‘terune’ dan ‘dedare’ tinggal berbeda Kecamatan kebayang bagaimana ‘nyongkolan’nya, apakah tradisi ‘pondokan’ bagi keluarga calon pengantin pria juga berlaku di Sasak ya Pak?
    Terima kasih Pak, telah berbagi keindahan ragam budaya kearifan lokal dari suku Sasak. salam

    • Kalau pihak terune dan dedare-nya beda kecamatan atau bahkan beda kota, biasanya nyongkolan dimulai dari suatu tempat yang berjarak kira-kira sekitar 1 km dari rumah dedarenya. Begitu info yang sempat aku terima, Bu. Terus soal tradisi ‘pondokan’, itu maksudnya apa ya Bu? Terus terang aku baru dengar mengenai tradisi itu.

      • Terima kasih Pak, yang sy maksud semacam ‘pondokan’ sebagai tempat awal upacara dhi nyongkolan dan ternyata sudah diakomodasi pengaturannya ….dimulai dari suatu tempat yang berjarak kira-kira sekitar 1 km dari rumah dedarenya …… Salam

      • Oh maaf kalau aku salah tangkap maksud Bu Prih. Dan syukur kalau ternyata sudah terjawab juga :)

  15. SerachShiro

    Very beautiful and colorful photos and the love to make a procession ! :)

  16. Wuich…. bener-bener nice moment, ini….bisa mengabadikan salah satu tradisi daerah…. siep-sieppp :D

  17. weits, beliaunya dah nyampe Lombok.. mantabs..

  18. Lovely post Chris! I so enjoy your lessons on traditions and geography and other cultures. I always learn from you while enjoying your beautiful photography. Blessings, Robyn

  19. bagus sekali foto-fotonya. beberapa bulan lagi aku ada rencana ke lombok. moga2 sempat lihat yang unik-unik juga.. :D

  20. Wow, awesome!!! It’s beautiful tradition marriage…Thanks for sharing…..

  21. Kaya banget Indonesia dengan segala tradisi budayanya ya Mas Krish..Kalau punya anak wajib hukumnya ikut nyongkolan, biar pas di anaknya nanti orang juga mau ngantar ramai-ramai :)

  22. rusydi hikmawan

    untuk urusan menjaga tradisi, sy jadi bangga terlahir dan menetap di lombok. super sekali pak ulasannya.

    • Terimakasih Pak Rusydi, mudah-mudahan tradisi ini bersama dengan tradisi lainnya baik di Lombok maupun di berbagai daerah lain di Nusantara ini bisa tetap terjaga

  23. Jadi pengen kawin lagi. Ehhhh:d

  24. Unik sekali proses pernikahannya. Romantis juga kali ya diculik oleh sang pujaan hati :aD. Hahahaha…

  25. Komplitt plitt postingannya… like it… :)

  26. Kalau adat Lampung sama mas. Lariannya di sebut nikah jujur, tapi di bawa langsung ke rumah mempelai pria dan yg wanita tidur dengan saudara perempuan atau ibu mempelai pria. Sebelum calon wanitanya di larikan, di dalam kamar akan di taruh sebuah surat dan sejumlah uang sebagai tanda pemutusan hubungan calon mempelai wanita dg keluarganya sehingga ia akan diterima oleh keluarga mempelai pria. Lalu baru kemudian akan diadakan acara akad nikah dan resepsinya yg biasanya besar2an. Tapi kalo sekarang ini adat lariannya itu biasanya dilakukan keluarga supaya prosesi upacaranya diperpendek, mengingat biayanya jelas luar biasa.

    • Ya aku pernah dengar juga mengenai tradisi ini di Lampung, tapi kalau gak salah ingat namanya sebambangan dan bukan nikah jujur. Atau itu dua event yang berbeda ya? Anyway pasti menarik tuh kalau bisa lihat dan mengikuti urut-urutannya.

  27. wow thanks for this post. i’m glad learned something new today :) very interesting

  28. Chris, jadi waktu ‘merari’ sebetulnya ortu si gadis tahu kalo hari itu anak gadisnya diculik?

    • Pada umumnya sih betul-betul gak tahu, Fe

      • Oya? lho..anak gadisnya juga ga tau? wah bisa keliru sama diculik beneran dong?

      • Nah kalau si gadisnya pasti tahulah kalau mau di”culik” sama pacarnya itu. Soal diculik beneran, menurut info yang aku dapatkan waktu, itu memang pernah terjadi. Katanya ada pemuda yang suka sama seorang gadis dan gadisnya mau-mau gak mau gitu, jadinya ya diculik beneran. Akhirnya sih mereka kawin juga.

  29. Hi Krishna.
    Terima Kasih, thank you for your recent collection of likes on the Half-Eaten Mind :)
    Great pictures and travel tales as always!

    Vijay
    – HalfEatenMind

  30. RMW

    Interesting and fascinating custom… thanks for the education!

  31. semoga tetap terjaga tradisi ini di lombok dan tidak digunakan untuk kesenangan yang gag2… :)

  32. Fantastic post ,unique traditions .Regards.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,228 other followers

%d bloggers like this: