Jalan-jalan ke kuburan

“Hah gak salah tuh? Ngapain jalan-jalan di kuburan? Apa yang mau dilihat? Apa bagusnya motret nisan di kuburan?”.  Begitulah respons yang aku dapat ketika aku kemukakan rencana ini dihadapan istri dan kedua anakku.

Yah . . . memang bukan kuburan betulan sih. Maksudnya memang dulu pernah dijadikan area pemakaman, tetapi sejak tahun 1975, jenazah-jenazah yang dikuburkan di tempat tersebut telah direlokasi ke taman pemakaman lain, dan tempat ini pada tahun 1977 diresmikan menjadi museum oleh Gubernur DKI Jakarta, yang pada waktu itu dijabat oleh Ali Sadikin.

Ih koq misterius amat sih? Dimana tepatnya tempat ini? Masih seram apa gak suasana di sana?

Well, tempat yang aku maksudkan, sekarang dikenal sebagai Museum Taman Prasasti. Lokasinya di Jalan Tanah Abang I no. 1, Jakarta Pusat. Semula tempat ini memang betul-betul taman pemakaman yang dikenal dengan sebutan Taman Pemakaman Kebon Jahe Kober. Taman pemakaman kuno yang mulai dibangun pada tangal 8 September 1795 ini semula diadakan untuk menggantikan taman pemakaman yang lama, yang terletak di tempat yang sekarang dikenal sebagai Museum Wayang. Maklum Museum Wayang di daerah Kota Lama Jakarta itu dulunya adalah sebuah gereja, dan pada abad pertengahan, biasanya area pemakaman terletak di halaman gereja.

Taman Pemakaman Kebon Jahe Kober atau dahulu lebih dikenal dengan sebutan Jassenkerkhof merupakan lahan kuburan yang cukup luas. Semula luasnya mencapai 5,5 hektar, tetapi seiring dengan perkembangan kota dan pemukiman di sekitarnya, termasuk pembangunan kantor walikota Jakarta Pusat, luas lahan pekuburan yang sekarang akhirnya dipakai sebagai Museum Taman Prasasti hanyalah tinggal seluas 1,2 hektar saja. Sayang juga ya . . .

Museum Taman Prasasti merupakan salah satu museum terbuka yang dimiliki Indonesia. Museum terbuka artinya koleksi museum tersebut tidak tertata rapi di dalam lemari di dalam sebuah bangunan museum, melainkan tertata di suatu daerah atau taman yang beratapkan langit. Dengan demikian, pastilah koleksi museum ini lebih rentan terhadap kerusakan kalau tidak betul-betul dirawat. Maklum saja, tiap hari terpapar sinar matahari yang kadang cukup terik, sementara di hari lain mungkin juga diguyur hujan deras. Belum lagi ulah tangan-tangan jahil yang tidak menghargai warisan masa lalu.

Lokasi Museum Taman Prasasti yang relatif “tersembunyi” menyebabkan tidak banyak orang yang menyadari keberadaannya. Meskipun demikian, indahnya berbagai jenis nisan yang dipamerkan dalam museum ini, ditambah lagi dengan rimbunnya pepohonan di dalamnya, menyebabkan museum ini sering dimanfaatkan untuk melakukan pemotretan pre-wedding oleh pasangan-pasangan yang akan menikah. Maklum saja, jika fotografernya cukup jeli memanfaatkan sudut-sudut pemotretan dan pilihan background yang tepat, maka foto yang dihasilkan menunjukan suasana yang seolah-olah bukan berada di Jakarta. Keindahan koleksi museum ini juga sering menjadi sasaran para fotografer, baik yang masih amatir maupun yang sudah profesional untuk melengkapi portfolio mereka. Belum lagi para remaja yang sering berkumpul dan berfoto ria di sana.

One of the tombstones in Museum Taman Prasasti

Museum Taman Prasasti memiliki koleksi lebih dari 1200 buah nisan yang sebagian besar berasal dari abad ke XVIII dan XIX, dengan aneka bentuk dan rupa. Dari yang hanya berbentuk lempengan dengan tulisan di atasnya, sampai yang berbentuk patung-patung indah, bahkan ada pula yang berbentuk gedung. Yang berbentuk patung banyak yang menggambarkan sosok malaikat, wanita atau anak-anak. Semula, sebelum dilakukan perombakan dan pemindahan jenazah, terdapat lebih dari 4600 nisan di dalam Taman Pemakaman Kebon Jahe Kober ini. Menurut informasi yang aku dengar, dahulunya ini merupakan area pemakaman elite. Jadi hanya kaum bangsawan, para pejabat VOC dan orang-orang yang disetarakan dengan orang Eropa saja yang bisa dimakamkan di sana. Tetapi lama kelamaan, banyak juga orang dari kalangan rakyat biasa yang dimakamkan di sana.

Nah . . . di suatu hari Sabtu yang mendung, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum Taman Prasasti ini. Semula sempat bingung juga mencari pintu masuk kendaraan. Ternyata pintu masuk halaman Museum terletak persis di depan gerbang masuknya, dan jangan kaget kalau tempat parkirnya relatif sempit. Begitu selesai memarkir kendaraann, perhatian kita akan tertumbuk pada tiga buah patung yang dipasang tinggi di atas pilar-pilar yang bertuliskan “MUSEUM TAMAN PRASASTI”. Siapapun akan mahfum kalau patung-patung yang terpasang itu sebetulnya merupakan patung hiasan nisan. Baru di belakang ketiga patung inilah terdapat sebuah bangunan bergaya abad pertengahan yang ditopang dengan tiang-tiang yang kokoh. Itulah pintu masuk ke dalam pelataran museum.

Setelah membeli karcis yang cukup murah, Rp 2.000,- buat dewasa dan Rp 1.000,- buat anak-anak, aku mulai melangkahkan kaki ke lahan pekuburan yang sekarang sudah tidak seram lagi ini. Banyaknya pepohonan juga membuat segar suasana di sana. Tiang dengan lonceng di atasnya dan deretan tugu bersisi empat yang di keempat sisinya tertempel lempengan nisan kuno menyambut setiap pengunjung. Aku sempat diberitahu oleh salah seorang penjaga, kalau lonceng di atas tiang itu merupakan lonceng kematian. Dahulu, setiap ada orang yang mau dikuburkan di sana, lonceng tersebut dibunyikan,sehingga petugas pemakaman bisa bersiap-siap.

An old hearse

Sempat bingung juga, mau kemana kaki melangkah. Kiri, kanan, atau lurus. Akhirnya aku putuskan untuk berbelok ke arah kiri dari arah pintu masuk terlebih dahulu. Setelah melewati kantor administrasi museum, perhatianku tertumbuk pada sesosok kereta bercat hitam. Kereta tersebut dahulu dipergunakan untuk membawa jenazah. Keretanya sih cukup terawat kelihatannya. Apalagi di atas kereta ada atap yang melindunginya dari panas dan hujan. Sayang tidak ada keterangan yang menjelaskan mengenai kereta jenazah tersebut. Setelah mengambil satu atau dua photo dari kereta jenazah tersebut, aku melanjutkan penjelajahan di sisi kiri gerbang dengan memasuki sebuah ruangan yang difungsikan sebagai ruang pamer. Di dalamnya, selain dipasang beberapa poster yang berisi sedikit penjelasan mengenai apa yang ada dalam museum ini, dan beberapa maket bangunan makam dari berbagai suku di Indonesia, juga dipamerkan peti jenazah yang dulu dipergunakan oleh Dwi Tunggal Proklamator kita. Kalau kita menghadap ke arah peti jenazah, yang di sebelah kanan adalah peti jenazah Bung Karno, dan yang di sebelah kiri adalah peti jenazah Bung Hatta.

The coffins which was used by the first president and the first vice president of Indonesia

Keluar dari ruang pamer, mulailah penjelajahan di pelataran museum. Kalau punya banyak waktu, pasti asyik membaca satu persatu prasasti dan nisan yang tersebar di seluruh areal museum itu. Berbagai bentuk prasasti dan nisan dengan keterangan siapa yang dimakamkan di bawahnya bisa bercerita cukup banyak mengenai masa lalu Jakarta atau saat itu disebut Batavia. Berbagai macam bahasa yang dipergunakan untuk mengenang mereka yang telah meninggal, sedikit banyak juga memberikan gambaran mengenai beragam suku dan bangsa yang tinggal di Batavia. Dari hasil penjelajahanku, paling tidak aku menemukan nisan-nisan yang berbahasa Belanda, Portugis, Jerman, Inggris, China, Jepang dan juga India. Tampak juga nisan-nisan yang merupakan batu penanda kuburan untuk beberapa orang sekaligus. Ada yang menunjukkan hubungan kekeluargaan, ada pula yang menunjukkan kelompok tertentu, seperti biarawan dari tarekat tertentu atau pasukan dari kesatuan tertentu.

Untuk prasasti atau nisan yang menandai suatu keluarga tertentu, biasanya terdapat sebuah lambang yang dikenal dengan sebutan Lambang Heraldik atau Coat of Arms. Lambang Heraldik merupakan bagian dari budaya masyarakat Eropa. Lambang ini merupakan lambang keluarga, biasanya keluarga bangsawan, yang sarat makna. Lambang Heraldik menunjukan identitas keluarga dan lingkungan budaya tempat mereka tinggal. Dengan melihat lambang ini, kita bisa menelusuri sejarah keluarga dan asal usul nenek moyang panyandang lambang tersebut. Lambang-Lambang Heraldik yang tersimpan di Museum Taman Prasasti menunjukkan adanya keturunan dari Anggota Dewan Hindia Belanda, Anggota Dewan Kota Batavia, Anggota Angkatan Bersenjata, Syahbandar, Kaum Mardijkers, Anggota Dewan Gereja dan Pendeta, Ilmuwan, dan lain sebagainya. Biasanya tiap-tiap lambang memuat unsur-unsur puncak lambang atau mahkota, helm dan jubah, perisai, penopang dan semboyan atau motto keluarga tersebut. Memang tidak semua lambang memiliki kelima unsur yang telah disebutkan tadi secara lengkap, tetapi yang pasti ada adalah perisai, karena di situlah tampak informasi mengenai keluarga penyandang lambang tersebut.

One of the Coat of Arms

Selain Lambang Heraldik, beberapa nisan juga mencantumkan penyebab kematian orang yang ditandainya. Nisan lain menunjukkan apa pekerjaan ataupun jasa yang telah diperbuatnya, baik dalam bentuk inskripsi di atas prasasti nisan tersebut maupun tergambar dari bentuk nisan itu sendiri, misal saja nisan milik Dr. W.F. Stutterheim, seorang ahli purbakala yang melakukan penelitian terhadap candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nisan Dr. Stutterheim ini berbentuk seperti stupa candi. Nisan lain bahkan ada yang sekaligus berfungsi sebagai peringatan kepada orang lain seperti tampak pada prasasti nisan Pieter Erberveld.

The inscription of Pieter Erberveld

Lho siapa si Pieter Erberveld ini? Kenapa prasasti nisannya sekaligus juga berfungsi sebagai peringatan kepada orang lain? Dari penelusuran ke beberapa sumber, diperoleh informasi bahwa Pieter Erberveld adalah seorang pemuda keturunan Jerman dan Thailand yang sangat membenci penjajahan. Dikisahkan karena garis keturunannya yang tidak murni sebagai orang Eropa, dia dianggap memiliki status yang lebih rendah dari orang Belanda. Kondisi ini menambah kebenciannya kepada Kompeni Belanda. Bersama dengan kawannya, yaitu Raden Kartadriya, dia berencana membunuh orang-orang Belanda di Batavia. Sayang rencana ini ketahuan, sehingga Pieter Erberveld ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Hukuman Pieter Erberveld sangat kejam, yaitu tubuhnya ditarik oleh empat ekor kuda ke arah yang berlainan, sehingga tubuhnya pecah tercerai berai. Setelah meninggal, tengkoraknya diambil dan ditusuk dengan pedang kemudian dipancangkan di atas tembok yang dibangun di tempat eksekusinya. Di tembok itu ditulis peringatan dalam bahasa Belanda dan Bahasa Jawa sebagai peringatan agar jangan ada lagi orang yang merencanakan pemberontakan seperti Pieter Erberveld tersebut. Tempat eksekusi Pieter Erberveld teretak di sekitar jalan Pangeran Jayakarta sekarang dan dikenal sebagai Kampung Pecah Kulit. Prasasti ini kemudiannya dipindahkan lokasinya ke Museum Taman Prasasti dan menjadi salah satu koleksinya. Sedangkan tengkorak Pieter Erberveld yang terpasang di atas prasasti nisannya sekarang hanyalah merupakan tiruannya.

Selain Pieter Erberveld, masih banyak lagi tokoh-tokoh sejarah yang prasasti nisannya dipamerkan di Museum Taman Prasasti. Sebut saja Olivia Marianne Raffles yang adalah istri pertama Sir Thomas Stamford Raffles yang sangat mencintai tumbuhan dan pencetus berdirinya Kebun Raya Bogor. Nisan Olivia Raffles diletakkan bersebelahan dengan nisan sahabat keluarganya, yaitu John Casph Leyden yang juga menjabat sebagai penasehat utama Raffles dalam berhubungan dengan orang-orang Melayu. Ada pula nisan dari J.H.R. Kohler yang terkenal karena memimpin pertempuran melawan para pejuang Aceh. Ada pula nisan dari A.V. Michiels yang meninggal dalam pertempuran melawan para pejuang Bali di Klungkung. Dari kalangan rohaniwan, terdapat nisan dari Mgr. A.C Claessens yang merupakan uskup Batavia saat itu dan berjasa membangun kembali Gereja Kathedral yang sempat roboh. Nisan Mgr. W.J. Stall yang meneruskan pembangunan kembali Gereja Kathedral setelah Mgr. Claessens tidak lagi menjabat sebagai Uskup Batavia juga ada di sana. Dari kalangan akademisi, ada prasasti nisan dari H.F. Roll si pencetus berdirinya STOVIA atau sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ada pula beberapa nisan dari Gubernur Jenderal VOC yang pernah ditempatkan di Batavia. Di dekat gerbang masuk ke taman ini juga terdapat sebuah prasasti untuk memperingati satu kompi tentara Jepang yang gugur di Bogor dalam pertempuran melawan pasukan sekutu. Di antara ratusan nisan kuno dari berbagai bangsa asing itu, terselip pula nisan-nisan yang belum terlalu kuno dan merupakan nisan warga anak bangsa. Misal saja nisan milik Miss Riboet yang merupakan salah satu bintang sandiwara terkenal pada masanya, dan nisan Soe Hok Gie yang merupakan salah satu aktivis mahasiswa UI di era Orde Lama yang meninggal karena terhirup gas beracun pada saat melakukan pendakian di Gunung Semeru.

Selain tokoh-tokoh yang cukup berperan dalam sejarah, ada satu nisan yang cukup misterius. Nisan ini terletak di dekat nisan Olivia Raffles. Nama yang tertulis Adalah Kapiten Jas. Tidak ada yang tahu siapa Kapiten Jas ini, hanya saja banyak orang percaya kalau berkunjung ke makam Kapiten Jas dan disana memohon sesuatu, biasanya terkabul. Apakah betul demikian? Entahlah . . . aku sendiri tidak tahu pastinya bagaimana.

Tombstone of Kapitein Jas

Tak terasa jam menunjukkan sudah mendekati waktu ditutupnya museum. Perlahan aku melangkah meninggalkan pelataran museum. Di gerbang utama museum, yang dahulunya merupakan tempat diletakkannya jenazah sebelum dimakamkan, aku masih menyempatkan diri melihat-lihat beberapa lempeng prasasti yang tertata rapih di sana. Pada prasasti-prasasti yang tertempel di dinding bangunan gerbang utama, dan juga di dinding luar tembok pembatas pelataran museum, berbagai Lambang Heraldik dari orang-orang yang bersangkutan kelihatan lebih jelas dibandingkan yang tercantum dalam lempeng prasasti di dalam pelataran museum. Mungkin karena lempengan prasasti yang ini tidak terlalu terpapar cuaca karena ada atap di atasnya.

Seharusnya, kita sebagai bangsa Indonesia bolehlah berbangga karena prasasti nisan yang terkumpul di dalam Museum Taman Prasasti ini merupakan salah satu koleksi tertua di dunia. Sayang dalam penjelajahan di dalam pelataran museum, aku masih menjumpai beberapa coretan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab pada beberapa prasasti maupun nisan. Belum lagi ulah beberapa pengunjung yang memanjat ke atas batu prasasti hanya sekedar untuk bergaya di foto oleh kawan-kawannya. Sayang ya . . . generasi yang seharusnya bisa menghargai dan menjaga warisan bangsa malah mempercepat kehancurannya

Anyway, buat teman-teman yang ingin berkunjung ke Museum Taman Prasasti, museum ini buka setiap hari dari jam 09.00 sampai jam 15.00, kecuali pada hari Senin dan hari libur nasional. Setiap Senin dan hari libur nasional, museum ini tutup.–

About these ads
Categories: Travel Notes | Tags: , , | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “Jalan-jalan ke kuburan

  1. Lovely blog

  2. thanks for stopping by and liking my post. btw ni kuburan terkenal dr zaman oma-opa en bonyok kita dl. cuma anak2 muda suka ga gitu tau kec kalo mau foto2 doang. sempet mau nyari lokasi tmp ini tp ga nemu, padahal gini2 org jakarta juga, jd malu….hehe….thx for the info!

    • Memang tempatnya agak tersembunyi. Mungkin pas kesana memang lagi ditutup untuk restorasi, jadi tidak kelihatan. Anyway, thanks juga sudah mampir.

  3. Halo Kami dari http://www.indonesiavirtual.com ingin mengajak rekan rekan blogger untuk berpartisipasi dalam gerakan #KenalIndonesia.

    Silahkan visit http://www.indonesiavirtual.com untuk melihat koleksi foto 360 derajat tentang Indonesia dan silahkan copy embed code Taman Makam Prasasti untuk menarik file foto 360 derajat tersebut ke dalam blog kalian. Ayo bantu misi kami untuk “mengibarkan bendera” Indonesia ke dunia!

    Link Embed Code Taman Makam Prasast di sini :

    http://indonesiavirtual.com/index.php?option=com_jumi&fileid=11&Itemid=109&id_img=25

    Salam #KenalIndonesia

    Notes : pertanyaan lebih lanjut silahkan email ke support@indonesiavirtual.com

    • Terimakasih sudah sempat mampir ke blog aku ini. Aku pasti support misinya, karena itu pula yang ada di pikiranku ketika membuat blog ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,186 other followers

%d bloggers like this: